Surabaya (beritajatim.com) – Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur mengingatkan adanya potensi kenaikan harga pada sejumlah komoditas pangan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025.
Empat komoditas yang menjadi fokus utama adalah beras, bawang merah, daging sapi, dan cabai merah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jawa Timur, Ibrahim, dalam paparannya di Surabaya menyampaikan bahwa pola historis menunjukkan tren inflasi pada periode akhir tahun dipengaruhi oleh kenaikan permintaan masyarakat dan penurunan pasokan akibat musim hujan.
“Secara historis sejak 2019 sampai 2024, komoditas pangan seperti telur ayam ras dan minyak goreng, serta komoditas nonpangan seperti angkutan udara, menjadi pemicu inflasi menjelang momen HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional) Nataru,” ujar Ibrahim.
Ia menjelaskan bahwa kondisi serupa berpotensi kembali terjadi tahun ini. Musim tanam yang masih berlangsung menyebabkan pasokan pangan menipis, termasuk beras dan berbagai komoditas hortikultura.
“Kami memantau bahwa beras, bawang merah, daging sapi, dan cabai merah harus menjadi perhatian utama karena pasokannya menurun sementara permintaan meningkat,” tegas Ibrahim.
Panen Berlangsung Bertahap, Harga Berpotensi Naik
Berdasarkan analisis BI Jatim, panen bawang merah diperkirakan berlangsung pada Desember, aneka cabai pada Januari, dan beras pada Februari 2026. Kondisi ini membuat pasokan di pasar relatif ketat pada periode akhir tahun.
Ibrahim menambahkan, “Tren permintaan yang tinggi selama Nataru dan prakiraan penurunan pasokan akibat musim hujan membuat harga komoditas seperti daging ayam, telur ayam ras, cabai merah, dan bawang merah berpotensi meningkat.”
Selain faktor domestik, ketidakpastian global juga menjadi perhatian. Kenaikan harga emas perhiasan, misalnya, ikut dipengaruhi gejolak geopolitik internasional.
Inflasi Masih Terkendali
Meski terdapat risiko kenaikan harga, BI Jatim tetap optimistis bahwa inflasi Jawa Timur pada akhir 2025 akan terjaga.
“Kami memproyeksikan inflasi akhir tahun 2025 tetap berada dalam rentang sasaran nasional 2,5±1 persen,” kata Ibrahim.
BI bersama pemerintah daerah dan anggota Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) disebut akan terus memperkuat koordinasi untuk memastikan pasokan dan distribusi pangan tetap terjaga. (ted)






