Surabaya (beritajatim.com) – Pengamat Kebijakan Publik yang juga dikenal sebagai Tokoh Olah Raga Jawa Timur, Bambang Haryo Soekartono (BHS) merasa prihatin dan merasakan duka mendalam atas tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang pasca laga BRI Liga 1 antara Arema FC vs Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10/2022) lalu.
BHS melihat ada unsur human error atau kelalaian manusia dalam tragedi maut, hingga mengakibatkan ratusan korban jiwa meninggal dunia tersebut.
“Saya melihat ada unsur human error, kelalaian manusia atau kekhilafan manusia dalam tragedi kelam di persepakbolaan Indonesia di Stadion Kanjuruhan Malang,” kata BHS, Jumat (14/10/2022).
BHS menyayangkan, jika infrastruktur Stadion Kanjuruhan dianggap salah satu penyebab tragedi maut itu. Sebab Stadion Kanjuruhan sudah ribuan kali menggelar pertandingan sepakbola profesional tanpa ada kejadian apa-apa.
“Stadion Kanjuruan sudah ribuan kali menggelar pertandingan, dan tidak pernah kejadian apa-apa. Jadi, jangan salahkan infrastruktur stadion Kanjuruhan,” ujarnya.
Ketua Umum Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrat) Jawa Timur ini menambahkan, jika sisi keamanan di setiap pertandingan seharusnya di bawah kendali Panitia Pelaksana Pertandingan. Panitia Pelaksana haruslah semua yang tergabung dalam PSSI.
“Sisi keamanan di setiap pertandingan sepak bola tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus di bawah kendali Panitia Pelaksana Pertandingan. Sehingga, akan tertib dalam proses keamanan serta tindakan pengamanan di dalam maupun di luar Stadion,” tuturnya.
BHS berharap tragedi maut di Stadion Kanjuruhan Malang, hingga ratusan orang meninggal dunia harus menjadi pelajaran semua stakeholder terkait di persepakbolaan Indoesia, agar kejadian tak terulang lagi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tragedi-kanjuruhan”]
Ketua Umum Pengcab IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) Kota Surabaya ini menilai kurang siapnya crowd management atau penanganan jika muncul kejadian kerusuhan, chaos, kepanikan di dalam stadion, seharusnya disiapkan oleh pihak penyelenggara pertandingan sepak bola di Indonesia.
“Pihak panitia penyelenggara pertandingan sepak bola sebelum laga dimulai perlu menginformasi kepada penonton di tribun stadion terkait jalur-jalur pintu evakuasi bagi mereka keluar stadion. Kemudian, panita pelaksana pertandingan juga siap siaga di pintu-pintu stadion karena itu jalur evakuasi utama penonton jika ada atau terjadi kekacauan, kericuhan serta chaos. Mereka harus membuka pintu stadion, agar para penonton bisa keluar dari dalam lapangan atau stadion,” terangnya.
Oleh karena itu, BHS berharap adanya sumber daya manusia yang andal dan di bidangnya atau profesional dalam setiap penyelenggaraan pertandingan sepak bola di Indonesia.
“Penting menempatkan pihak profesional di bidangnya saat gelaran pertandingan sepak bola, agar kejadian seperti di Kanjuruhan, Malang tak terjadi lagi,” harapnya.
Selain itu, pentingnya juga memasang CCTV di berbagai sudut seperti di tribun penonton, semua pintu masuk-keluar, dan di luar stadion juga harus disiapkan oleh penyelenggara pertandingan sepak bola.
“Stadion harus banyak terpasang CCTV, hal itu untuk memantau keadaan di dalam maupun luar Stadion. Jika dalam rekaman CCTV terlihat akan terjadi keadaan rusuh, maka panitia penyelenggara pertandingan bisa mengambil sikap, membuka pintu stadion atau menyiapkan segala hal untuk keselamatan penonton sepak bola,” harapnya.
Anggota Dewan Pakar DPP Partai Gerindra tersebut juga menyayangkan adanya prosedur aturan FIFA yang dilanggar dalam tragedi maut di Stadion Kanjuruhan, Malang.
“Salah satu yang dilanggar adalah aturan larangan penggunaan gas air mata di dalam stadion saat laga pertandingan sepakbola,” katanya
“Semua prosedur pertandingan sepak bola yang terutama berhubungan dengan aturan FIFA harus dijalankan dengan baik. Dalam aturan FIFA sangat jelas larangan penggunaan senjata api, gas air mata dan sebagainya dalam penanganan keamanan saat pertandingan sepak bola di Stadion. Itu harus ditaati,” sambung Bambang Haryo.
Founder BHS Peduli ini menyesalkan adanya tembakan gas air mata, sehingga muncul kericuhan dan chaos penonton di tribun stadion hingga menimbulkan korban. Padahal lanjut BHS, Ketua PSSI notabene mantan anggota Polri, pastinya lebih paham aturan-aturan itu.
BHS berpesan agar pihak PSSI dalam setiap pertandingan sepak bola di Liga Indonesia mengirimkan perwakilannya untuk memantau kesiapan panpel seperti keamanan stadion dan lainnya, agar saat pertadingan berjalan aman, tidak terulang lagi kejadian tragis seperti di Stadion Kanjuruhan, Malang.
Korban meninggal maupun luka-luka di tragedi Kanjuruhan, Malang menjadi keharusan tanggung jawab Pemerintah.
“Keluarga korban yang meninggal dunia dan korban luka-luka semuanya harus dijamin oleh pemerintah Indonesia,” imbuhnya.
BHS juga mempertanyakan apakah tiket yang dibeli penonton sudah tercover asuransi apa belum.
“Saya belum tahu, apakah tiket penonton laga Arema FC lawan Persebaya Surabaya itu apakah sudah tercover asuransi apa belum. Seharusnya tiket pertandingan sepakbola sudah diasuransikan, hal itu untuk hal hal yang tidak diinginkan seperti tragedi Kanjuruhan, Malang. Oleh karena itu perlu dilakukan cross-check secara benar oleh semua pihak terkait masalah asuransi tiket penonton itu,” ungkapnya.
Atas tragedi Kanjuruhan, Malang, Bambang Haryo mengharapkan semua pihak mengevaluasinya. Jangan sampai ada aturan-aturan yang malah merugikan perkembangan sepak bola di Indonesia.
“Duka Kanjuruhan, duka untuk negeri ini. Semua pihak harus evaluasi, agar tragedi ini tak kembali terjadi lagi. Harapan saya sepak bola Indonesia harus semakin berkembang,” pungkasnya. (tok/ted)






