Surabaya (beritajatim.com) – Klenteng Tionghoa-Jawa, Hong San Ko Tee atau yang lebih populer dikenal Klenteng Cokro masih berdiri kokoh dan memancarkan binar suci di Jalan Cokroaminoto Nomor 12, Surabaya.
Bangunan bersejarah di Kecamatan Tegalsari ini telah berdiri selama lebih dari satu abad, menjadi saksi bisu perjalanan waktu yang melampaui usia 100 tahun.
Berdiri sejak 1919, Klenteng Cokro menyimpan kekayaan kisah lewat akulturasi budayanya yang kental. Terutama dengan hadirnya patung-patung khas Jawa seperti Dewi Sri, Sang Hyang Manikmoyo, dan Sang Hyang Ismoyo.
Keberadaan patung Jawa Dewi Padi di sana pun bukan tanpa alasan. Konon, pada 1970 sang pendiri dikisahkan sempat memimpikan sosok Dewi Sri, sebelum akhirnya patung tersebut ditemukan secara nyata di area lahan klenteng.
Menjelang perayaan Imlek 2577 Kongzili dan di usianya yang ke-107 tahun, suasana klenteng kini tampak jauh lebih sibuk dari biasanya. Bangunan tua itu mulai bersolek dan mempercantik diri untuk menyambut hari kemenangan.
Seluruh altar, patung dewa-dewi Tionghoa-Jawa di Klenteng Cokro dibersihkan dan ditata rapi. Setiap inci dari permukaan ruangan disapu, ratusan lampion merah digantung tinggi, sebagai pucuk pengharapan umat.
Robertus, salah satu pengurus Klenteng Cokro mengatakan bahwa rutinitas bersih-bersih klenteng menjelang Imlek ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Dilakukan oleh pengurus klenteng dan dibantu warga sekitar. “Total sekitar 45 orang,” kata Robertus hari Jumat (13/2/2026).
Ia juga menyampaikan bahwa persiapan menjelang Imlek 16-17 Februari 2026 ini sudah dilakukan sejak hari Rabu kemarin. Hari ini tinggal tahap akhir, yakni pemasangan lampion dan kertas harapan umat.
“Lampion sekitar 100 pasang. Maknanya seperti pelita dengan harapan. Supaya nama-nama yang terpasang di dalam kertas harapan ini kehidupan untuk berikutnya lebih cerah dan rezeki bertambah dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar dia.
Nama-nama yang terpasang di kertas harapan lampion ini merupakan umat yang beribadah di Klenteng Cokro. Menurut Robertus, jumlahnya ada ratusan orang berasal dari berbagai daerah bahkan luar Pulau Jawa.
“Umat yang beribadah di sini sampai luar pulau. Kalimantan, Sulawesi, Manado, ada banyak,” jelasnya.
Untuk ibadah Imlek nanti, dia menyampaikan Klenteng Cokro akan memulai rangkaian ibadah sejak Senin malam tanggal 16 Februari dan puncaknya di hari Selasa dini hari tanggal 17, yang dimulai pukul 00.00 WIB lewat tengah malam.
“Ibadah Imlek dilaksanakan 16 Februari 2026 malam, puncaknya tanggal 17 Februari 2026 00.00 WIB yang disebut malam Imlek,” terangnya.
“Tanggal 16 Februari 2026 malam jam 22.00-23.00 WIB akan ada kesenian barongsai yang membagikan angpau, sebagai makna rezeki yang dibagi dari dalam, dibagi ke umatnya,” pungkasnya. (rma/kun)






