Malang (beritajatim.com) – Bermula dari hobi saat SMP, Tengsoe Tjahjono merilis puisi Buku Pelajaran Menggambar Bentuk. Melalui buku puisi ini, Tengsoe berusaha memasukkan hobi menggambar ke dalam teks puisi. Ia mengaku hobi gambarnya muncul sejak SMP.
“Sebetulnya sejak SMP dulu, saya sudah suka menggambar. Bahkan pada suatu ketika ada lomba tingkat kabupaten di Banyuwangi, saya mewakili smp saya. Hanya saja saat di tempat lomba saya minta tukar ke teman,” kata Tengsoe Tjahjono di tengah bincang buku puisi terbarunya ‘Pelajaran Menggambar Bentuk’.
“Hanya saja saat itu bapak saya pensiunan tentara untuk beli alat lukis tidak ada uang,” tambahnya saat berada di kafe pustaka, Universitas Negeri Malang, Sabtu (17/6/2023) malam.
Penyair yang sekarang menjadi dosen di Universitas Negeri Surabaya itu sudah sejak kecil punya kecenderungan mengekspresikan diri. Namun, saat kecil ia tidak bisa mengekspresikan diri ke ranah gambar hingga akhirnya beralih ke ranah menulis. “Menggambar bagi saya dulu sangat mahal,” katanya.
“Saya punya kesenangan menggambar, saya tahu komposisi, keseimbangan, fokus, sudah saya kuasai. Saya ada buku yang suka saya gambari tiap hari. Saya berusaha hobi saya menggambar itu masuk ke dalam buku teks puisi,” jelas pria kelahiran Jember tersebut.
Dalam proses kreatifnya menulis buku puisi terbitan SIP Publishing tahun 2023 ini, Tengsoe mengaku ada tiga proses yang dijalani. Ada yang berawal dari lukisan kemudian menulis puisi. Ada sejumlah puisi yang digambarkan dalam bentuk ilustrasi gambar. “Ada juga beberapa lukisan lain yang setelah saya cari mirip dengan puisi. Jadi saya masukkan juga,” katanya.
BACA JUGA:
Mengenang 74 Tahun Kepergian Chairil Anwar, Berikut Karya Sang Penyair
Antologi ini mengusung konsep puisi tiga bait (putiba). Menurutnya, putiba menjadi sketsa dalam bentuk kata-kata sehingga puisi yang termuat dalam buku ini cenderung pendek. “Walaupun saya bisa menulis puisi panjang, tapi sekarang saya pendek pendek saja,” tutur pria yang pernah menjadi dosen bahasa dan sastra Indonesia di Hankuk University of Foreign Studies.
Antara puisi dan gambar, menurutnya sama-sama sketsa. Kadang saat menulis, tidak ada pretensi untuk suatu gagasan. Meskipun demikian, kadang ada refleksi dari gambar dan puisi yang diciptakan, semuanya terjadi secara samar-samar.
Sebagai penulis, ia mengaku sangat tidak produktif. Hal itu karena dirinya selalu ingin ada yang beda setiap kali akan menulis lalu diterbitkan jadi buku. “Buku-buku sebelumnya semua berbeda. Saya ingin sesuatu yang beda. Saya cenderung buat beda-beda,” jelas penulis buku ‘Meneroka Dapur Pentigraf: Ke arah Kegiatan Apresiasi Cerpen Tiga Paragraf’ tersebut.
Buku yang ditulisnya ini sebagai pelajaran bagi diri sendiri dalam menggambarkan hal-hal yang dekat dan memberi hidup. “Kita tidak pernah menangkapnya sebagai objek yang bisa ditulis. Saya sendiri sebagai penyair yang selama ini terlalu jauh mengembara,” paparnya.
“Saya ingin menunjukkan kepada publik, bahwa ketika kita menulis puisi, tidak perlu rumit. Keindahan puisi tidak ditunjukkan kecanggihan diksi yang ditulis. Diksi sudah tersedia di depan kita, jadi tidak perlu jauh jauh, tidak perlu rumit,” terangnya.
BACA JUGA:
Perempuan Penulis Padma Rayakan Kemerdekaan dengan Sastra
Penyair yang dikenal sebagai penemu ide sastra tiga itu juga menjelaskan filosofi dari penggunaan unsur tiga dalam sejumlah karyanya. Semuanya bermula ketika ia menulis cerpen tiga paragraf (pentigraf) sekitar tahun 80-an.
Pentigraf merupakan respon dari fiksi mini yang berkembang di Indonesia. Hanya saja fiksi mini tidak jelas morfologinya karena ada cerita yang sangat panjang waktu itu. “Akhirnya saya membuat pentigraf. Mengapa tidak empat atau lima. Bagi saya, karena dalam teks pada umumnya ada pendahuluan, isi dan penutup makanya saya mengambil tiga. Tiga itu juga karena saya lahir 3 oktober 1958,” paparnya diselai tawa.
Setelah pentigraf berhasil menjadi kebutuhan guru untuk mengajarkan ke peserta didik. Dia lakukan mencetuskan ide cerita tiga kalimat.
Puisi tiga bait menjadi kelanjutan dari ide-ide sebelumnya. “Dari semua itu saya mengelompokkan pentigraf, cerita tiga kalimat, dan puisi tiga bait dalam satu payung bernama sastra tiga,” pungkasnya mengakhiri penyampaian.

Acara diskusi dipandu oleh moderator, M Dandy dari Pelangi Sastra Malang. Kemudian Wahyu Kris sebagai penelaah buku menyampaikan pembacaannya. Menurut Wahyu Kris buku Pelajaran Menggambar Bentuk begitu istimewa, karena ada sketsa dan dibuat sendiri oleh penyairnya.
“Dari segi pembacaan makna ini buku puisi yang sederhana, tentang sepatu, sore, kabel, jendela, burung-burung dsb. Bermuara pada manusia yang mencari jati dirinya, waktunya, yang kehilangan ibunya, atau sepatunya. Bagian lain yang menarik, cara kerja apa yang diciptakan pak Tengsoe, dari ruang kata ke ruang rupa. Kerja seperti apakah?,” ujar penulis buku ‘Mendidik Generasi Z dan A’ tersebut.
Dari hasil pembacaannya ia memaparkan bahwa puisi yang ditulis Tengsoe Tjahjono memiliki fase-fase ketika hendak berpindah dari ruang puisi ke ruang sketsa. Pada tahap pertama, ada ruang di luar ruang sketsa. Pada tahapan kedua, penyair sudah melompat ke ruang sketsa. Tahap ketiga, sudah berada dan melarutkan dirinya di dalam ruang sketsa.
BACA JUGA:
Fenomena Puisi Esai Menggairahkan
“Dia menyatukan ruang kata dan ruang rupa di dalam karya. Pak tengsoe, selamat menemukan ruang baru di ruangrupa dalam sketsa. Penyair sudah berpuisi layaknya seorang perupa. Berpuisi sebagai seorang perupa,” kata Wahyu.
Acara yang berlangsung hingga pukul 21.00 ini turut diramaikan dengan beberapa penampilan. Antara lain pembaca puisi dan musik akustik. Perilisan buku puisi Pelajaran Menggambar Bentuk sejatinya sudah dilakukan secara daring oleh penerbit pada 16 Februari 2023 lalu.
Namun, secara langsung baru berlangsung di kota Malang oleh Pelangi Sastra. Perilisan buku puisi ini juga sebagai perayaan usia ke-65 Tengsoe Tjahjono bulan Oktober 2023 mendatang. Oleh sebab itu, 65 putiba yang termuat dalam antologi sebagai simbol dari usia 65 tahun. [dan/suf]






