Iklan Banner Sukun
Siapa Dia

Fenomena Puisi Esai Menggairahkan

Akhmad Taufiq

Jember (beritajatim.com) – Akhmad Taufiq, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menilai, fenomena puisi esai menggairahkan kesustraan di Indoenesia.

“Fenomena puisi esai sangat menggairahkan perbincangan dalam forum-forum sastra, karena ada suntikan energi yang luar biasa,” kata Taufiq, dalam acara webinar NGONTRAS#2 (Ngobrol Nasional Metasastra) bertema ‘Politik dalam Sastra’ yang digelar oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (18/9/2021).

“Kita bisa mencermati dengan seksama, apakah puisi esai sebagai strategi tekstual itu semakin memperkaya khazanah perpuisian kita, atau justru mengerdilkan atau membonsai perpuisian kita,” kata Taufiq.

Selalu ada dua sisi untuk membaca puisi, yakni perspektif kekuasaan dan penyair sendiri. Taufiq membandingkan dengan puisi-puisi perlawanan terhadap negara yang ditulis Wiji Thukul. “Dari perspektif kekuasaan berbasis negara, puisi-puisi perlawanan Wiji Thukul merupakan ancaman yang harus dibungkam,” katanya.

Di sisi Wiji Thukul sendiri, lanjut Taufiq, puisi-puisi itu merupakan sarana perjuangan untuk mencapai kesetaraan. “Dengan orientasi ke depan sebagai upaya membangun peradaban yang lebih baik,” katanya.

Taufiq menambahkan, kekuasaan bukan hanya berbasis negara, tetapi juga bisa berbasis pasar atau bahkan pengarang itu sendiri. “Jadi semuanya sah-sah saja. Yang paling penting adalah kontribusinya terhadap peradaban masa depan. Jika karya-karya yang dihasilkan pengarang mampu membangun peradaban masa depan, maka kehadirannya menjadi penting untuk kita cermati dan dukung bersama,” katanya.

Dalam konteks ini, Taufiq mencoba mengapresiasi puisi esai yang diperkenalkan Denny Januar Ali yang juga dikenal sebagai tokoh lembaga survei di Indonesia. Dia menilai, fenomena puisi esai Denny JA merupakan strategi tekstual yang canggih yang tidak perlu bikin antipati.

“Kita tidak mungkin menolaknya. Hal ini mengingat bahwa dunia sastra memang dunia yang inklusif. Dia tidak menggunakan senjata, juga tidak menggunakan aturan untuk mengancam. Tetapi menggunakan kecanggihan tekstual sehingga menjadi brand, yang kita kenal dengan puisi esai,” kata Taufiq. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar