Bojonegoro (beritajatim.com) – Kabupaten Bojonegoro mengalami berbagai jenis bencana pada tahun 2024. Kejadian bencana yang paling mendominasi adalah angin kencang. Sepanjang 2024, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, mencatat ada 71 kejadian angin kencang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalaksa BPBD) Bojonegoro Laela Noer Aeny mengungkapkan, bencana angin kencang terjadi paling banyak di bulan Februari (18 kejadian) dan Desember (12 kejadian).
“Angin kencang terjadi di 67 desa dan 224 keluarga (KK) terdampak, dengan kerugian materiil mencapai Rp 1,47 miliar,” ujarnya, Senin (13/1/2025).
Selain angin kencang, banjir juga menjadi bencana rutin di Bojonegoro. Banjir luapan Bengawan Solo terjadi tiga kali pada bulan Maret, mempengaruhi 46 desa dan 1.235 KK. Sedangkan banjir genangan terjadi lima kali sepanjang tahun 2024, dengan 25 desa dan 527 KK terdampak.
“Banjir bandang tercatat terjadi di tiga kecamatan, yaitu Gondang, Sekar, dan Dander,” tambahnya.
Kejadian tenggelam juga meningkat, dengan 27 kejadian tenggelam di 25 desa dan 29 korban jiwa. Tanah longsor menjadi perhatian khusus di kawasan hutan dan bantaran sungai Bengawan Solo, dengan 37 kejadian longsor yang mempengaruhi 32 desa dan 31 KK.
Sementara, lanjut mantan Camat Kepohbaru itu, pada 2024, kekeringan di Bojonegoro menurun dibandingkan tahun sebelumnya, dengan 93 desa mengalami kekeringan. Gempa bumi kecil yang terjadi di Pulau Bawean juga terasa di Bojonegoro, namun tidak menyebabkan kerusakan signifikan.
BPBD Bojonegoro turut menangani kebakaran hutan dan lahan, dengan 56 kejadian di 38 desa, serta menyuplai air untuk 46 kejadian kebakaran. Di samping itu, BPBD juga mengatasi semburan air bercampur minyak di Gondang dan Sukosewu, serta satu kasus kegagalan industri.
“Memasuki 2025, BPBD Bojonegoro mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati mengingat potensi bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir,” imbuhnya. [lus/aje]






