Bojonegoro (beritajatim.com) – Massifnya impor beras yang dilakukan Pemerintah dinilai kontraproduktif dengan kondisi pertanian saat ini. Sebab, impor besar-besaran akan merusak harga gabah di tingkat petani, khususnya di Bojonegoro.
Pasca impor beras besar-besaran sejak Januari 2024, harga gabah mulai bergerak turun. Kondisi ini dinilai tidak memihak pada petani.
Salah seorang petani di Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro Rasno, mengungkapkan, mulai terdistribusikannya beras impor ke berbagai daerah membuat harga gabah turun bebas. Termasuk di beras impor juga telah masuk ke Bojonegoro.
Menurut Rasno, harga gabah kering sawah sebelumnya mencapai Rp8.100 per kilogram, kini tinggal Rp 7.500 per kilogram. Penurunan harga itu terjadi sekitar 2 pekan lalu.
“Harga itu untuk panen di wilayah Kecamatan Kanor dan Baureno,” ujarnya, Kamis (22/2/2024).
Menurutnya, sejumlah lahan pertanian yang berada di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo sudah mulai panen. Berbeda, dengan lahan pertanian padi yang berada di daerah tadah hujan. Persawahan di tadah hujan kini belum ada yang panen.
Hal itu dibenarkan oleh Subkoordinator Tanaman Pangan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro Ida Yuliastuti mengungkapkan, lahan pertanian padi yang sudah panen ini sebagian besar berada di kawasan sekitar Sungai Bengawan Solo.
“Lahan padi yang sudah sebagian besar di aliran Sungai Bengawan Solo, seperti di Kecamatan Kanor, Baureno, Ngraho, Dander, dan Malo,” ungkapnya. [lus/beq]






