Pacitan (beritajatim.com) – Cahaya lampu bagan yang biasa menghiasi malam di pesisir laut Pacitan kini nyaris lenyap. Laut yang biasanya ramai oleh aktivitas nelayan pemburu benih bening lobster (BBL) atau benur, dalam beberapa pekan terakhir berubah menjadi gelap dan sepi. Harapan para nelayan pun perlahan meredup.
Bowo Parto, nelayan asal Desa Plumpungan, Kecamatan Kebonagung, mengaku sudah hampir sebulan tak melaut. Bukan karena cuaca saja, tapi karena harga benur yang anjlok drastis.
“Harga benur sekarang cuma Rp 1.500. Modal gak nutup,” keluh Bowo ditulis Selasa (17/6/2025)
Padahal, Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 24/2024 menetapkan harga patokan terendah benur di tingkat nelayan sebesar Rp 8.500 per ekor. Namun kenyataannya, harga jual di lapangan justru jauh di bawah itu. Bahkan para pengepul banyak yang memilih berhenti operasi, lantaran jalur distribusi resmi belum jelas.
“Pengepul juga tutup. Yang nekat jual lewat jalur ilegal malah kena razia. Bingung semua,” tambah Bowo.
Kondisi diperparah oleh cuaca ekstrem. Gelombang tinggi, angin kencang, dan badai membuat laut semakin sulit dijangkau. Aktivitas penangkapan ikan pun nyaris lumpuh. Perahu-perahu hanya bersandar di bibir pantai, bagan-bagan dibiarkan kosong.
“Laut tidak bersahabat. Ikan susah dicari, apalagi benur,” ujarnya dengan nada pasrah.
Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi nelayan kecil seperti Bowo. Ketidakpastian harga, jalur distribusi, hingga cuaca buruk membuat mereka nyaris kehilangan pegangan hidup. Harapan kini hanya tersisa pada kepedulian pemerintah.
“Ndak tahu harus bagaimana. Berat, Pak. Semoga pemerintah segera turun tangan,” pungkasnya.
Di balik kecilnya benur, tersimpan harapan besar para nelayan. Dan ketika benur menghilang dari laut, kehidupan mereka pun ikut terombang-ambing. Jeritan mereka di tengah gelapnya pesisir bukan sekadar keluhan tetapi panggilan untuk didengar dan dibantu. (tri/ian)






