Madrid (beritajatim.com) – Kylian Mbappe baru semusim berkostum Real Madrid. Tetapi, ada saja “gebrakan” yang melibatkan kapten timnas Prancis itu. Setelah pekan lalu mewarisi nomor 10 Luka Modric yang hengkang ke AC Milan, kali ini Mbappe terlibat intrik dengan tandemnya di lini depan, Vinicius Junior.
“Agen Vini ingin agar gaji kliennya disamakan dengan Mbappe pada perpanjangan kontrak nanti. Tetapi, Real menolaknya,” klaim La Ser.
Gaji Donatello–julukan Mbappe–adalah EUR31,25 juta (Rp593,2 miliar) per musim hingga 2029. Sedangkan Vini “hanya” EUR20,83 juta (Rp395,4 miliar) hingga 2027.
Memang, konflik itu tidak secara langsung melibatkan Mbappe dan Vini. Tetapi, harus diakui bahwa hal itu dapat memicu perang dingin di antara mereka.
Apalagi, musim lalu beberapa kali dilaporkan bahwa sebenarnya Vini dan Mbappe tidak klop. Salah satunya dipicu posisi bermain Vini sebagai wide attacker kiri. Mbappe merasa dirinya lebih leluasa di posisi tersebut.
Tetapi, di lain sisi, peran Vini juga sebenarnya mulai tergeser dengan keberadaan Mbappe. Sejak Karim Benzema hengkang ke Al Ittihad dua tahun lalu, Vini adalah ikon Real. Sejak musim 2023–2024 dia juga mengenakan nomor 7.
Secara rasio, perbedaan kontribusi gol Vini musim lalu ketika ada Mbappe dan dua musim lalu cukup signifikan. Musim lalu dia mencetak 22 gol dan 19 assist dari 58 laga atau 0,7 kontribusi gol per laga. Sedangkan dua musim lalu dia membukukan 0,89 kontribusi gol per laga (24 gol dan 11 assist dari 39 laga).
Situasi bagi Vini memburuk dengan statistik Mbappe yang langsung moncer di debutnya musim lalu (44 gol dan 5 assist dari 59 laga). Rasio dari statistik tersebut adalah 0,83 kontribusi gol per laga.
Secara implisit, performa Mbappe musim lalu menjelaskan bahwa Vini bukan lagi ikon Los Merengues. Semakin diperjelas musim ini dengan nomor 10 yang akan dikenakan Mbappe. Sedangkan Vini baru mendapat nomor 7 setelah lima musim sejak debut pada 2018–2019.
Situasi ini berpotensi menciptakan jarak antara Mbappe dan Vini jika tidak segera ditemukan solusinya. Jika itu terjadi, maka juga bisa berimbas kepada suasana ruang ganti yang berujung kepada performa di lapangan. Apalagi, musim lalu Real gagal total di LaLiga, Copa del Rey, Supercopa de Espana, dan Liga Champions. (dio)






