Sumenep (beritajatim.com) – Aktivis PMII Sumenep juga membawa ‘keranda mayat’ saat berunjukrasa ke Pemkab setempat, Jumat (14/7/2023) sore. ‘Keranda mayat’ itu diselimuti kain putih bertuliskan ‘Bupati Fauzi’. Tentu saja, mereka tidak hanya berorasi dan membentangkan poster.
Mereka mengusung ‘keranda mayat’ itu saat ‘long march’ dari markas PMII Sumenep Jl. Kamboja hingga kantor Bupati Sumenep, Jl. Dr Cipto. Sambil mengusung ‘keranda mayat’ itu, mahasiswa melantunkan kalimat tahlil ‘Laa ilaha illallah’ sepanjang jalan.
Setiba di depan kantor Bupati, ‘keranda mayat’ itu diletakkan, dan para pengunjukrasa pun berorasi, mengecam masih tingginya angka kemiskinan di Sumenep.
BACA JUGA:
Demo PMII Sumenep Ricuh, Pagar Baru Diperbaiki Roboh Lagi
“Tingginya angka kemiskinan di Sumenep ini akibat buruknya kinerja Bupati dan Wakil Bupati. Yang dilakukan selama ini hanya kerja-kerja politik untuk meningkatkan popularitas. Sedangkan program pengentasan kemiskinan justru tidak terealisasi dengan baik,” teriak korlap aksi, Dimas Wahyu Abdillah.
Tidak hanya keranda mayat. Mahasiswa PMII juga membawa seekor ayam berbulu putih. Salah satu mahasiswa itu kemudian ‘memakan’ ayam mentah-mentah. “Ini sebagai simbol jika Bupati telah tega memakan daging rakyatnya sendiri. Hati nurani Bupati dan Wakil Bupati ini telah mati,” ujarnya.

Karena itu, para pengunjukrasa pun menggelar sholat jenazah dan tahlil di halaman Pemkab Sumenep. Bagi mereka, ini perlambang kepedulian pemimpin di Sumenep telah mati. “Mana janji-janji Bupati yang katanya akan membangun Sumenep? Buktinya masyarakat Sumenep masih miskin. Katanya ‘Bismillah Melayani’ ternyata ‘Innalillah melayani,” ungkap Dimas.
Para aktivis PMII Sumenep tersebut mengecam tingginya angka kemiskinan di Sumenep. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Sumenep menempati urutan ketiga kabupaten termiskin di Jawa Timur. Jumlah warga miskin di sumenep tercatat 206 ribu lebih atau 18,5 persen dari jumlah penduduk Sumenep. [tem/suf]






