Banyuwangi (beritajatim.com) – Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama Konservasi Indonesia (KI) dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi resmi membentuk Tim Pelaksana Budi Daya Udang Berkelanjutan sebagai langkah strategis memperkuat tata kelola sektor perikanan nasional. Pembentukan tim yang diinisiasi di Banyuwangi ini digadang-gadang menjadi model kolaborasi pertama di Indonesia dalam transformasi industri udang yang ramah lingkungan dan berdaya saing tinggi.
Pengenalan tim ini dilakukan oleh Asisten Deputi Pengembangan Perikanan Budi Daya Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Pangan, Cahyadi Rasyid, dalam lokakarya bertajuk “Penguatan Transformasi Industri Budi Daya Udang Nasional” yang digelar di Banyuwangi.
Hadir dalam agenda strategis tersebut Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia Victor Nikijuluw, serta Ketua Shrimp Club Indonesia Prof. Andi Tamsil.
Cahyadi Rasyid menyoroti posisi vital udang sebagai komoditas unggulan nasional. Namun, ia tak menampik bahwa sektor ini masih dibayangi tantangan kompleks, mulai dari serangan penyakit, keterbatasan pasokan energi di kawasan tambak, hingga hambatan nonteknis seperti perizinan dan fluktuasi harga pasar.
“Dengan kondisi itu kami memandang perlu pembenahan tata kelola yang terintegrasi. Pembentukan tim pelaksana yang terdiri dari berbagai stakeholder di Banyuwangi ini menjadi model kolaborasi pertama di Indonesia untuk memperkuat tata kelola dan daya saing sektor udang yang menjadi komoditas penting nasional,” ujar Cahyadi.
Pemilihan Banyuwangi sebagai lokasi pilot project bukan tanpa alasan. Wilayah di ujung timur Pulau Jawa ini dinilai memiliki keunggulan sosial dan kelembagaan yang solid, didukung jejaring pembudi daya yang luas serta komitmen kuat dari pemerintah daerah.
“Kombinasi ini menjadikan Banyuwangi lokasi tepat untuk merumuskan pendekatan baru yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” katanya.
Lebih lanjut, Cahyadi optimistis skema yang diterapkan di Banyuwangi dapat diduplikasi ke daerah lain. “Selain itu, Banyuwangi memiliki kapasitas sebagai contoh nasional dalam transformasi industri udang. Kami akan mengajukan model serupa tim yang dibentuk di Banyuwangi untuk bisa diimplementasikan di tingkat nasional,” imbuh Cahyadi.
Secara struktural, Tim Pelaksana Budi Daya Udang Berkelanjutan ini dipimpin langsung oleh Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi. Keanggotaannya melibatkan lintas institusi yang terbagi ke dalam delapan komisi strategis, meliputi bidang konservasi, industri dan komunitas, pasar dan rantai pasok, regulasi dan perizinan, sumber daya manusia, kesejahteraan, teknologi dan inovasi budi daya, serta edukasi dan pariwisata.
Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia (KI), Victor Nikijuluw, menjelaskan bahwa pembentukan tim ini tidak dilakukan sembarangan, melainkan berbasis riset mendalam dan pendampingan intensif KI kepada para petambak, serta kolaborasi dengan akademisi perguruan tinggi.
“Dengan adanya tim ini diharapkan ada dampak signifikan pada peningkatan produktivitas lokal sekaligus mendorong transformasi menuju budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan,” papar Victor.
Di sisi lain, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menyambut baik inisiatif ini sebagai tonggak sejarah baru bagi tata kelola perikanan di daerahnya. “Banyuwangi memiliki potensi besar, tetapi diperlukan arah yang jelas. Tim pelaksana ini menyatukan semua pihak untuk menyusun langkah yang terukur,” ujarnya.
Mujiono memastikan bahwa peta jalan (roadmap) yang disusun tim akan diintegrasikan secara penuh ke dalam kebijakan daerah. Hal ini mencakup tata ruang pesisir, kemudahan perizinan, hingga pengawasan mutu produk, demi menjamin produktivitas ekonomi berjalan selaras dengan kelestarian lingkungan melalui inovasi teknologi.
“Peluncuran tim pelaksana ini diharapkan menjadi model nasional perudangan modern yang adaptif dan berkelanjutan, dengan skema komprehensif dan struktur koordinasi yang kuat guna mewujudkan industri udang yang lebih sehat, efisien, dan inklusif,” pungkasnya. [alr/beq]






