Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi berhasil mencatat zero kasus campak dan rubella sepanjang 2025. Pencapaian ini tidak lepas dari upaya masif pemerataan imunisasi Measles-Rubella (MR) yang hingga Agustus 2025 sudah mencapai 63 persen.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi, Amir Hidayat, mengatakan sempat muncul satu kasus positif dan tiga suspek pada awal tahun. Namun, seluruhnya cepat tertangani dan pasien dinyatakan sembuh.
“Sempat muncul satu kasus positif dan tiga suspek awal tahun 2025, seluruhnya cepat tertangani dan telah sembuh,” kata Amir, Jumat (29/8/2025).
Amir menjelaskan setelah adanya kasus tersebut, tim kesehatan langsung melakukan pemantauan ketat, termasuk pelacakan kontak dengan orang-orang sekitar serta tindakan isolasi. Upaya itu diperkuat dengan cakupan imunisasi MR yang terus ditingkatkan. Hingga Agustus 2025, imunisasi sudah melampaui angka 50 persen.
“Dengan begitu alhamdulillah kasus bisa cepat tertangani. Dan langsung kita tingkatkan kewaspadaan,” ujarnya.
Menurut Amir, salah satu upaya penting dalam pencegahan penyakit menular seperti campak dan rubella adalah memperkuat imunitas kolektif. Jika imunitas kolektif tinggi, meski ada satu orang tertular, penularan dapat dicegah. Namun, jika imunitas kolektif rendah, risiko penyebaran bisa lebih besar.
Karena itu, Pemkab Banyuwangi terus menggenjot pemberian imunisasi MR agar mencapai 100 persen. Sementara cakupan imunisasi dasar di Banyuwangi pada 2024 telah mencapai 94,93 persen, melampaui target minimal 90 persen yang ditetapkan provinsi.
“Kita terus dorong supaya minimal dalam waktu dekat ini bisa mencapai lebih dari 60 persen, dan estimasi di akhir 2025 ini bisa mencapai target 95 persen, kalau target dari provinsi itu cukup 90 persen,” terang Amir.
Ia menambahkan, pihaknya berupaya agar tidak ada anak yang terlewat vaksinasi, khususnya imunisasi MR. Hal ini dinilai menjadi kunci utama mencegah penularan. Meski demikian, masih ada beberapa wilayah di Banyuwangi yang capaian imunisasi MR-nya belum optimal.
“Di antaranya wilayah Tegaldlimo yang hanya tercapai 36,6 persen, Songgon 37,1 persen dan Siliragung 37,9 persen,” jelas Amir. [alr/beq]






