Ringkasan Berita:
- Bank Jago melayani 19 juta nasabah hingga akhir September 2026, termasuk 13,1 juta nasabah funding pengguna Aplikasi Jago.
- Dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp28,9 triliun, naik 21 persen secara tahunan, sedangkan penyaluran kredit tumbuh 19 persen menjadi Rp27,9 triliun.
- Laba bersih setelah pajak Bank Jago mencapai Rp298 miliar, meningkat 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
- Bank Jago mempertahankan rasio kredit bermasalah atau NPL gross sebesar 0,9 persen dan rasio kecukupan modal atau CAR sebesar 27,5 persen.
Jakarta (beritajatim.com) – PT Bank Jago Tbk terus melanjutkan pertumbuhan dengan tetap menjaga kualitas yang sehat dan fundamental yang solid. Kinerja positif hingga kuartal III-2026 tercermin dari pertumbuhan nasabah, dana pihak ketiga (DPK), serta penyaluran kredit.
Hingga akhir September 2026, Bank Jago telah melayani 19 juta nasabah, termasuk 13,1 juta nasabah funding pengguna Aplikasi Jago. Pencapaian jumlah nasabah tersebut mencerminkan komitmen perseroan untuk menjaga kualitas pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan dengan memprioritaskan optimalisasi basis nasabah.
Dengan fokus pada kualitas pertumbuhan nasabah, total DPK Bank Jago mencapai Rp28,9 triliun, meningkat 21 persen dari Rp23,9 triliun pada akhir September 2025. Porsi current account and savings account (CASA) mendominasi DPK sebesar 53 persen atau setara Rp15,4 triliun, sedangkan deposito menyumbang 47 persen atau Rp13,5 triliun.
Di sisi lain, penyaluran kredit tercatat sebesar Rp27,9 triliun per September 2026, meningkat 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp23,5 triliun. Bank Jago konsisten menjaga kualitas dan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pembiayaan. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross sebesar 0,9 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata NPL perbankan nasional.
“Fokus kami yang mengedepankan pertumbuhan berkualitas, baik pengumpulan dana maupun penyaluran kredit, berdampak positif pada pencapaian kinerja serta posisi fundamental bank yang berada dalam posisi sangat baik. Dengan kemampuan mempertahankan kinerja positif secara terus-menerus, kami yakin kepercayaan nasabah akan semakin kuat dalam menggunakan produk dan layanan kami sebagai bank berbasis teknologi,” kata Direktur Utama Bank Jago Arief Harris.
Penguatan kepercayaan nasabah terlihat dari pertumbuhan stabil jumlah nasabah aktif yang secara konsisten menggunakan Aplikasi Jago untuk berbagai jenis transaksi. Selain itu, kolaborasi Bank Jago dengan ekosistem Bibit dan Stockbit memungkinkan nasabah terhubung langsung dan seamless untuk membeli produk investasi, seperti reksa dana, obligasi, dan saham. Kolaborasi ini telah menjangkau lebih dari 3,6 juta nasabah.
Sementara itu, akselerasi pertumbuhan kredit terus dipacu melalui penyaluran kredit kepada mitra ekosistem, platform digital, dan perusahaan pembiayaan, termasuk BFI Finance. Pendekatan ini membantu nasabah mendapatkan fasilitas pembiayaan sekaligus menjaga laju pertumbuhan aset pembiayaan Bank Jago agar lebih cepat dan terukur.
Selain penyaluran kredit melalui kolaborasi yang telah terbangun dengan baik selama lima tahun terakhir, Bank Jago juga mengembangkan penyaluran kredit secara langsung kepada nasabah melalui konsep pembiayaan yang bertanggung jawab untuk menjangkau segmen nasabah yang lebih luas.
Sebagai salah satu komitmen dalam menerapkan konsep pembiayaan yang bertanggung jawab, Bank Jago menghadirkan fitur Rapor Kredit pada Aplikasi Jago yang membantu debitur memahami kesehatan finansialnya terkait pinjaman atau kredit.
Melalui Rapor Kredit, debitur dapat mengakses informasi kesehatan kreditnya secara lebih mudah, jelas, dan transparan langsung dari Aplikasi Jago. Dengan demikian, debitur dapat lebih mengenali kapasitas finansialnya serta mengambil keputusan pinjaman dengan informasi yang lebih lengkap dan sesuai dengan kebutuhan.
Pertumbuhan bisnis yang sehat membawa aset Bank Jago mencapai Rp42,1 triliun per September 2026, naik 22 persen dari Rp34,5 triliun pada September 2025. Kenaikan aset ini diimbangi peningkatan profitabilitas dengan laba bersih setelah pajak atau net profit after tax (NPAT) sebesar Rp298 miliar, naik 50 persen dari Rp199 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan kondisi fundamental yang kuat, Bank Jago memiliki rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) di level 27,5 persen. Hal ini menunjukkan tingkat permodalan yang kuat bagi Bank Jago untuk terus berinovasi, berkolaborasi, dan menumbuhkan bisnis secara berkelanjutan.
“Bagi kami, pertumbuhan bisnis bukan hanya sekadar mencetak angka tetapi memastikan fundamental perseroan semakin kuat untuk bertumbuh secara berkelanjutan. Dengan begitu saya optimistis Bank Jago bisa bertumbuh lebih kencang seiring dengan kondisi perekonomian yang semakin optimal pada tahun mendatang,” pungkas Arief. [beq]





