Surabaya (beritajatim.com) – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi menetapkan Prof. Dr. Ir. Rossyda Priyadarshini, M.P. sebagai Rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur periode 2026-2030.
Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menitipkan pesan khusus agar rektor membawa hasil kerja yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
“Ukuran keberhasilan sebuah jabatan bukanlah kedudukan yang dicapai, melainkan manfaat dan dampak yang dihasilkan,” tegas Badri dikutip Rabu (28/10/2026).
Prinsip bekerja yang menghasilkan dampak ini menuntut pimpinan UPN Veteran Jatim tidak hanya fokus pada urusan administrasi akademik. Kampus harus merancang inovasi yang bisa menjawab masalah nyata dunia industri.
“Para pejabat yang dilantik hari ini haruslah menjadi pemimpin yang mampu membangun kolaborasi, mengembangkan talenta, dan menghadirkan dampak yang nyata,” pesan Badri.
Perguruan tinggi negeri kini memikul beban berat untuk mencetak tenaga ahli yang tangguh. Kampus harus bertransformasi dari pusat pendidikan dasar menjadi universitas riset bervisi kewirausahaan.
Agenda pelantikan di Jakarta ini juga melibatkan institusi lain. Rudianto Amirta resmi menjabat Rektor Universitas Mulawarman dan Ridho Kresna Wattimena mengisi posisi Rektor UPN Veteran Yogyakarta.
Pemerintah juga memperbarui barisan pimpinan politeknik negeri pada hari yang sama. Noor Cholis Basjaruddin, Riyadi Purwanto, serta Wiwik Endah Rahayu resmi memimpin politeknik wilayah Bandung, Cilacap, dan Subang.
Pembenahan formasi ini bahkan menyentuh area birokrasi kementerian. Rahmat Efendi ditunjuk sebagai Analis Sumber Daya Manusia Aparatur, sementara Dyah Ismi Afifah mengisi pos hukum di Badan Industri Mineral.
Proses pengesahan beberapa pejabat wilayah lain juga berlangsung serentak melalui sambungan virtual. Rangkaian kegiatan ini menjadi cerminan komitmen kementerian untuk meratakan kualitas pendidikan nasional.
Tongkat estafet kepemimpinan UPN Veteran Jatim kini resmi berganti. Sinergi antara keahlian riset kampus dan kebutuhan publik akan menjadi tolok ukur penentu kesuksesan lima tahun ke depan. [ipl/beq]






