Magetan (beritajatim.com) – Belasan hektar lahan pertanian di Desa Jajar, Kecamatan Kartoharjo, Magetan, terendam banjir akibat luapan Sungai Ulo. Kejadian ini membuat para petani setempat harus menghadapi kerugian, terutama karena tanaman padi yang baru saja ditanam mengalami kerusakan.
“Sawah kami mulai terendam banjir sejak pukul 06.00 pagi, dan hingga sore ini airnya belum juga surut,” ujar Januri, seorang petani di Desa Jajar, pada Senin (16/12/2024).
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar sawah yang terdampak sudah ditanami padi, dengan usia tanaman berkisar antara lima hari hingga satu minggu. “Ada lebih dari 10 hektar sawah yang terdampak. Tanaman kami terpaksa rusak karena banjir, dan kami harus menanam ulang,” tambah Januri.
Penyebab dan Dampak Banjir
Menurut Januri, air yang menggenangi sawah berasal dari luapan Sungai Ulo. Sementara itu, beberapa lahan pertanian yang belum ditanami hanya terkena dampak kecil.
Romadon, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Magetan, menjelaskan bahwa Desa Jajar merupakan wilayah yang langganan banjir setiap tahun. “Para petani sebenarnya sudah memahami risiko ini. Sebagai langkah mitigasi, kami dari DTPHP akan memberikan bantuan berupa benih kepada petani terdampak,” ungkap Romadon.
Rencana Bantuan untuk Petani Terdampak
Berdasarkan laporan kelompok tani di Desa Jajar, banjir kali ini telah merendam sekitar 16 hektar lahan dengan tanaman padi berusia 7-8 hari. “Kami berharap air dapat surut dalam waktu dua hari, tetapi karena usia tanaman masih muda, kemungkinan besar tanaman akan rusak. Oleh karena itu, bantuan benih akan disalurkan pada tahun mendatang,” kata Romadon.
Banjir ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya langkah antisipasi menghadapi bencana alam, terutama di wilayah rawan banjir seperti Desa Jajar. Petani berharap dukungan dari pemerintah dapat membantu mereka bangkit dari kerugian ini. [fiq/ian]






