Jombang (beritajatim.com) – Di penghujung sore, sebuah mobil warna hitam parkir di halaman Green Red Hotel Syariah Jombang. Dua pria membawa tas ransel keluar dari mobil itu. Keduanya kemudian menuju meja resepsionis. Dua perempuan muda yang berada di meja resepisonis pun menyambut. Terjadi dialog di antara mereka.
Tak jauh dari meja resepsionis itu terlihat papan barcode aplikasi PeduliLindungi. Dua pria itu kemudian mendekatkan telepon pintar miliknya ke papan barcode tersebut. Pemindaian pun dilakukan. Hotel yang berada di Jl Sukarno-Hatta Jombang ini memang meminta pengunjungnya untuk menggunakan aplikasi ini sebelum menginap. Hal itu sebagai upaya pelacakan (tracing) dan pemutusan rantai penyebaran Covid-19.
Usai menjalani proses di resepsionis, dua pria bermasker itu kemudin menuju kamar. Tak lama berselang, ada lagi mobil yang ‘mendarat’ di parkiran hotel tersebut. Lagi-lagi, mereka mendaftar di resepsionis guna memesan kamar. “Alhamdulillah, tingkat keterisian kamar atau okupansi di hotel ini mulai normal,” kata General Manager Green Red Hotel Syariah Jombang, Riyadi Saputra, Kamis (16/12/2021).
[berita-terkait number=”4″ tag=”hotel”]
Riyadi menjelaskan, pandemi Covid-19 adalah pukulan telak bagi industri perhotelan. Betapa tidak, akibat adanya pembatasan, hotel yang dulunya ramai, tiba-tiba mati suri. Jumlah pengunjung bisa dihitung dengan jari.
Puncak lesunya perhotelan di Jombang terjadi pada Juli hingga Agustus 2021. Karena saat itu pemerintah menerapkan kebijakan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) darurat. Akses jalan ditutup. Kerumunan dilarang. Demikian halnya dengan rumah makan dan penginapan. Jam buka dibatasi.
Okupansi Terjun bebas
Agar roda bisnis tetap menggelinding, manajemen melakukan berbagai terobosan. Salah satunya mengoptimalkan restoran yang ada di hotel tersebut. Caranya, dengan membuat menu bakso dandang. Menu tersebut dipasarkan melalui online. Walhasil, bakso tiga ukuran tiga porsi yang diwadahi dandang tersebut diterima di pasaran.
Pemesannya kebaanyakan orang yang sedang menjalani isolasi mandiri. “Bakso dandang ini tidak boleh makan di tempat, tapi kita kirim ke pemesan. Kita pakai delivery order. Kebanyakan untuk acara keluarga. Ada juga seseorang yang pesan untuk dikirim ke temannya yang sedang isolasi mandiri,” ujarnya.
Hanya restoran yang menjadi tumpuan Green Red Syariah Hotel saat PPKM darurat. Itu berjalan selama Juli – Agustus 2021. “Kamar sepi. Ruang pertemuan di hotel juga sepi. Tidak ada orang yang menggelar acara, semisal seminar atau acara organisasi,” sambunnya.
Memasuki, September mulai okupansi hotel mulai menggeliat. Ada peningkatan, meski belum terlalu signifikan. Angin segar baru berhembus saat Oktober 2021, itu karena ada kelonggaran dari pemerintah. Sejumlah ruas jalan di Jombang mulai dibuka. Hal itu berdampak pada Green Red Syariah Hotel.
Tamu yang menginap mulai berdatangan. Begitu juga dengan orang yang mengadakan acara di hotel. Mulai tumbuh subur. Bahkan hingga Desember ini, hotel yang berada di Jl Sukarno-Hatta Jombang ini mulai normal. Saat ini okupansi hotel tembus 90 persen. Dari 35 unit kamar, bisa laku 30 unit per hari.
Namun demikian, kata Riyadi, pihaknya menerapkan aturan ketat soal protokol kesehatan (prokes). Setiap tamu yang datang wajib mencuci tangan pakai sabun di tempat yang disediakan, kemudian mereka juga wajib memakai masker. “Kami juga menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Ini untuk memutus rantai penyuebaran Covid-19,” ungkap Riyadi.
Mengail Rezeki dari Nutrisi Umpan

Kondisi serupa juga dialami pengusaha nutrisi umpan pancing yang ada di Jl Penegak, Mojongapit, Jombang, Kausar MD (41). Dua bulan terakhir ini menjadi angin segar bagi Kausar. Melandainya kasus Covid-19 membuat hari-harinya kembali diisi kesibukan. Dia kembali menggenjot produksi. Meracik bahan, mengemas, kemudian memasarkannya.
Pengusaha muda ini sudah lima tahun memproduksi nutrisi untuk umpan ikan. Namanya ‘Protein Powder’. Namun sejak pandemi Covid-19 melanda, usaha milik Kausar ikut terpukul. Pesanan ke sejumlah daerah menurun. Dampaknya, penghasilan dari usaha tersebut juga terjun bebas.
Kausar berkisah, dia memulai usahanya pada 2016. Saat itu dunia pemancingan sedang naik daun. Kausar melihat ada ceruk bisnis yang bisa dimasuki dalam dunia hobi tersebut. Apalagi, Kausar selama ini memang memiliki hobi memancing.
Setelah melakukan analisa usaha, pria yang akrab disapa Ucang ini memulai peruntungan baru tersebut. Pemasaran awal, hanya di jaringan komunitas pemancing. Walhasil, upaya tersebut berbuah manis. Protein Powder diterima di pasaran. Langkah lainnya, Ucang mempromosikan hasil produksinya secara online.
Dia mengikuti puluhan grup pemancing yang ada di media sosial. Nah, lewat jaringan itulah Protein Powder dikenalkan. “Dalam sehari, saya ulpload 50 gambar di puluhan grup FB (facebook) penghobi mancing. Juga memasang iklan berbayar di FB. Dari situlah produk saya mulai dikenal,” ujarnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pandemi”]
Tak hanya puas di situ, Ucang juga mendatangi distributor peralatan memancing di sejumlah kota di Jawa Timur. Tak ayal, dalam waktu dua tahun, Protein Powder dari Jombang ini merambah ke berbagai kota di Jatim. Mulai Mojokerto, Lamongan, Kediri, Sidoarjo, Malang, Surabaya, serta kota-kota lainnya.
Seiring laju waktu, pesanan Protein Powder juga merambah ke luar pulau. Di antaranya, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Pengiriman dilakukan sesuai permintaan. Terkadang satu minggu sekali, terkadang juga satu bulan sekali.
“Selain di kota-kota di Jawa Timur, kami juga sudah memiliki distributor di luar pulau. Semisal di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, hingga Papua. Karena saat ini kami hanya melayani tingkatan distributor,” kata ayah satu anak ini.
Omzet Anjlok saat Pendemi

Lantas berapa omzet per bulan selama menekuni bisnis ini? Ucang merinci, sebelum pandemi omzet penjualan nutrisi tersebut tembus Rp 50 juta per bulan. Namun situasi berubah saat terjadi pandemi dalam dua tahun terakhir. Itu karena adanya kebijakan pembatasa kegiatan masyarakat. Kerumunan-kerumunan dilarang. Akibatnya banyak kolam pemancingan yang tutup.
“Mulai 2020 ada penurunan omzet akibat pukulan pandemi. Sebelum pandemi, omzet kami Rp 50 juta per bulan. Namun mulai pandemi omzet tersebut anjlok hingga 80 persen. Saat gencar-gencarnya PPKM, omzet kami hanya Rp 5 juta per bulan. Turun drastis,” katanya merinci.
Kini, kasus Covid mulai melandai. Kolam pemancingan mulai dibuka. Maka tidak heran, sejak dua bulan terakhirnya, bisnis yang digeluti Ucang mengeliat kembali. Pemesanan dari berbagai daerah mulai berdatangan. Tentu saja, omzet dari penjualan juga terkerek.
“Alhamdulillah, sejak kasus Covid melandai, kolam pancing banyak yang buka. Kini omzet penjualan nutrisi dan beberapa produk lainnya perlahan meningkat. Bulan kemarin omzet kembali naik. Tidak lagi Rp 5 juta, tapi berada di angka Rp 20 juta,” pungkas penghobi mancing ini. [suf]







