Malang (beritajatim.com) – Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (Ilkom UMM) menghadirkan narasumber utama pakar media baru (new media) dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, Mustafa Selcuk. Ia membahas tentang polarisasi kelompok yang disebabkan perang informasi di media sosial semakin meresahkan.
Menurut Mustafa Selcuk, berbagai kasus konflik sosial yang tak perlu terjadi diawali dari saling caci di media sosial. Ternyata, perang informasi ini tidak selalu alami, bisa juga direkayasa oleh pihak tertentu dengan memanfaatkan troll factory.
“Troll factory ity perusahaan agensi internet yang menyediakan pengelolaan isu menggunakan influencer, buzzer ataupun bot. Perang informasi di media mirip perang dunia nyata,” ungkap Selcuk.
Perang siber bisa berupa serangan virus komputer, mengganggu radar, mengenkripsi transmisi radio, dan membom pusat relai komunikasi. Semuanya dimaksudkan untuk melindungi atau menyerang informasi atau sistem informasi lawan.
Meski demikian, perang informasi tidak terbatas pada dunia militer walau dapat digunakan untuk mendukung strategi militer nasional. Perang informasi bukan hanya serangan siber, tetapi juga bergantung pada kampanye media sosial untuk menyebarkan kepentingan dan narasi aktor melalui platform media sosial.
Misalnya, dukungan publik sangat penting untuk keberhasilan kampanye yang berlarut-larut dan pendukung serta pencela kampanye akan berjuang melalui koran dan di televisi untuk mempengaruhi dukungan itu. “Contohnya Pegasus sebagai spywar Israel yang dirancang untuk dipasang secara diam-diam dan jarak jauh pada ponsel yang menjalankan iOS dan Android,” tutupnya.
Kuliah Tamu Internasional di Program Studi Ilkom UMM pada Rabu (15/5/2024) lalu itu juga menjadikan Kaprodi Komunikasi UMM Nasrullah sebagai panelis. Nasrullah mewanti-wanti mahasiswa agar tidak mudah terprovokasi.
“Saya harap tidak mudah masuk ke dalam echo chamber secara emosional ketika menerima informasi dari media sosial. Banyak kasus di dunia menunjukkan perpecahan disebabkan polarisasi di media sosial. Provokasi itu dilakukan dengan sengaja oleh troll factory,” ungkap Nasrullah.
Cara kerja troll factory adalah dengan cara memelihara buzzer ataupun bot, influencer, dan menggunakan informasi hoaks untuk menyerang lawan atau mengadu domba kelompok agar terpolarisasi semakin tajam. Troll factory merusak tatanan sosial berkat kekuatan konten dan jaringan melalui media sosial dapat mengaduk opini publik sehingga saling membenci dan mencaci.
“Menurut penelitian, dari 64 negara, 30 diantaranya menggunakan troll factory untuk melakukan perang informasi. Ini sungguh sangat berbahaya jika tidak diwaspadai,” ujar Nasrullah.
Senada Selcuk, Nasrullah menegaskan tidak ada media yang 100 persen objektif dan netral. Setiap media memiliki kepentingan yang sulit dilepaskan, baik dari sisi individu pekerja media, rutinitas, organisasi internal dan eksternal media, maupun pada tingkat ideologi.

Mahasiswa berebut mengajukan pertanyaan usai kedua narasumber memaparkan materinya. Sebagian besar mempertanyakan keberpihakan pemerintah dan media ketika terjadi perang informasi itu. Publik banyak dirugikan karena ikut terpecah dan masuk dalam konflik ketika perang opini terjadi di media.
Salah satu penanya, Sania, mengritik media banyak melakukan framing berita menggunakan cara information disorder. Merespon pernyataan ini, Selcuk mengatakan subjektivitas media seringkali menjadi sumber informasi publik dan menjadikan sebagai referensi.
“Cara terbaik menurutnya adalah melakukan pengecekan ulang tentang kebenaran yang disampaikan media dengan cara bertanya langsung ke sumber terpercaya,” kata Sania.
Wakil Rektor UMM Bidang Riset, Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama, Salis Yanuardi, Ph.D. mengapresiasi Komunikasi UMM mengangkat tema ini. Selain aktual, persoalan information war juga sedang hot. “Kita berada dalam masyarakat simulacrum, yang sulit membedakan mana informasi benar dan mana tidak,” ungkapnya.
Kuliah tamu internasional Komunikasi UMM merupakan salah satu program untuk menambah pengetahuan dan pengalaman mahasiswa pada sentuhan global. Sebagai Prodi yang terakreditasi internasional oleh FIBAA di Jerman, Komunikasi UMM akan terus mengagendakan forum internasional baik dalam bentuk kuliah tamu, seminar, maupun pertukaran mahasiswa. (dan/kun)






