Kabar itu sangat mengejutkan. Pada 10 Februari 2026, Selasa malam, Dominikus Adi Sutarwijono, populer dipanggil Awi, Ketua DPRD Kota Surabaya 2024-2029, diinformasikan meninggal dunia di Jakarta.
Pada Kamis (12/2/2026) siang kemarin, jenazah almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Keputih Surabaya.
Awi itu pribadi multi-predikat. Dia jurnalis. Dia politikus. Dia aktivis saat kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Dia juga kepala rumah bagi istrinya, Lusia Yekti Handayani, dan kedua putra-putrinya.
Bagi sebagian besar wartawan di Kota Surabaya dan Jawa Timur umumnya, nama Awi dikenal luas dan populer. Dia pernah berkiprah di Harian Surya selama beberapa tahun dan kemudian hijrah ke Tempo Grup di Jakarta.
Sebagai wartawan, di ranah aktifitas ini, penulis bersinggungan dan bersahabat lama dengan almarhum. Kita bersahabat sejak bertemu di pos liputan Pemprov Jatim dan pos-pos lain yang bersinggungan dengan politik dan pemerintahan di Jatim. Kita sama-sama cukup lama ngepos di Pemprov Jatim era Gubernur Basofi Soedirman dan Gubernur Imam Utomo.
Rajutan persahabatan itu berlangsung terus. Komunikasi tetap terjaga baik, setelah almarhum banting setir sebagai praktisi politik di PDI Perjuangan (PDIP).
“Awakmu dan Mas Luki tetap di media saja, Mas, biar saya yang terjun di politik praktis,” ujar Awi, sekitar tahun 2000-an ketika pertama kali terjun di lapangan politik praktis.
Penulis dan Dwi Eko Lukononto (Luki) kemudian mendirikan media online beritajatim.com pada April 2006, ketika model platform media ini dinilai ‘langka dan aneh’ di Jatim.
Saat itu, era media massa cetak masih sangat kuat dan tak terestimasikan bakal mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya hingga sekarang.

Figur Istiqomah
Lahir di Kota Blitar pada 4 Agustus 1968, kota di mana Bung Karno, Presiden pertama dan Proklamator kemerdekaan RI, dikebumikan. Sejak kenal di dunia wartawan, sama-sama liputan politik dan pemerintahan di Jatim, Awi dikenal sebagai wartawan kritis, pemikirannya tajam, dan punya daya analisis kuat. Sehingga pergaulan sehari-hari dengan Awi selama di lapangan liputan terasa menyenangkan, mencerahkan, dan terus bersemangat.
Penampilannya yang sederhana dan apa adanya bukan jadi penghalang bagi Awi untuk menjalin kontak, komunikasi, dan sharing dengan banyak narasumber. Termasuk narasumber para elite politik penting dan pemerintahan di level puncak di Jatim.
Bagi Awi dan sejumlah wartawan politik lain di Jatim, berbicara, sharing, dan berdiskusi dengan gubernur dan pejabat penting lain di Jatim adalah fenomena yang cukup intens dilakukan.
Selain menerima masukan dari staf, second opinion dari banyak kalangan, termasuk praktisi pers, adalah poin penting yang mesti diserap dan diperhatikan gubernur dan elite politik penting lain di Jatim.
Itu realitas politik lumrah dan wajar dalam konteks komnunikasi politik dua arah antara pemimpin dengan yang dipimpin. Praktisi pers kerapkali dipandang sebagai seorang generalis. Memiliki banyak pengetahuan. Di mana materi pengetahuannya bersifat multiperspektif. Pengetahuan yang bersifat komprehensif dan paripurna, mengingat intensnya menggali fakta riil di lapangan.
Episode kehidupan Awi di awal tahun 2000-an berubah. Dia ‘migrasi’ dari dunia pers ke ranah politik praktis. Dari peran dan fungsi melakukan penyebaran informasi, pendidikan dan pencerahan publik, dan sosial kontrol pers, pindah ke ranah politik praktis: merebut, mengelola, dan mempertahankan kekuasaan.
Model pergaulan di dunia pers bersifat equal dan egalitarian. Di ranah politik praktis dibentengi dengan struktur, posisi jabatan, senioritas, pengalaman, loyalitas, akses sumber daya politik (ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya), serta banyak faktor lain.
Awi mampu beradaptasi dengan cepat dan baik di ranah politik praktis. PDIP adalah political choice yang diambilnya. Fakta politik ini sebenarnya jauh-jauh hari sudah terbaca dari sikap, perilaku, dan pandangan politik kritis yang dilontarkannya.
Awi termasuk salah satu wartawan yang jadi ‘korban politik’ ketika rezim Orde Baru bersikap keras terhadap kaum Nasionalis Soekarnois, yang mendukung kepemimpinan Megawati Soekarnoputri (Pro-Mega) versus PDI Soerjadi.
Dia jadi ‘korban’ kekerasan petugas keamanan: Satu pengalaman politik yang tampaknya makin meneguhkan komitmen, pandangan, dan jejak histori politiknya di PDIP. Dia politikus kaum Nasionalis Soekarnois yang istiqomah.
Dia konsisten di jalan politik bersama PDIP sejak aktif di dunia pers. Dia penggagum pemikiran-pemikiran Bung Karno tentang Nasionalisme, ekonomi kerakyatan, relasi dengan wong cilik (kaum Marhaen), politik berdikari, dan banyak hal lain yang berhubungan dengan ide-ide besar Putra Sang Fajar.
“Di politik itu tak boleh mengeluh,” tegas Awi ketika bersilaturahmi ke kantor beritajatim.com di kawasan Kutisari Surabaya menjelang Pilkada 2020.
Alumni SMA Negeri 1 Blitar dan program studi Ilmu Politik FISIP Unair Surabaya ini menapakkan kaki di rumah besar politik kaum Nasionalis: PDIP, sejak terjun di ranah politik praktis. Itu jadi rumah politik yang pertama dan terakhir bagi Awi.
Dia berpulang ke Tuhan Yang Maha Esa pada 10 Februari 2026 sebagai Ketua DPRD Kota Surabaya 2024-2029 representasi PDIP. Sebab, partai ini pemenang pemilihan umum legislatif (Pileg) 2024 lalu.
Nilai-nilai Soekarnoisme yakni kumpulan pemikiran, ajaran, dan ideologi perjuangan yang dirumuskan Soekarno untuk melawan kolonialisme dan imprealisme sangat dikagumi dan berupaya diejawantahkan Awi sebagai kader dan elite PDIP Surabaya.
Inti ajaran ini adalah Marhaenisme: sebuah ideologi politik khas Indonesia untuk membebaskan rakyat kecil dari eksploitasi. Soekarnoisme berakar pada Marhaenisme, yaitu ideologi perjuangan yang mencakup Sosio-Nasionalisme (nasionalisme yang berpijak pada kemanusiaan), Sosio-Demokrasi (demokrasi politik dan ekonomi), dan Ketuhanan yang Berkebudayaan.
Bung Karno sangat gandrung dengan persatuan nasional. Karena itu, semasa hidupnya, Sang Proklamator ini menggabungkan tiga pilar kekuatan utama di Indonesia pada masa pergerakan: kaum Nasionalis, umat Islam, dan kelompok Marxis.
Nasionalisme, Soekarnoisme, dan Marhaenisme adalah nilai-nilai ide dan ajaran politik yang diyakini dan ditapaki Awi. Rumah besar politik, dalam perspektif politik praksis, adalah PDIP. Awi berjuang dan merealisasikan ide-ide politik besar itu melalui PDIP.
Dia gandrung wong cilik. Dia peka dengan aspirasi rakyat di akar rumput. Dia tak segan turun, datang langsung ke rumah-rumah rakyat yang berada di gang-gang sempit perkampungan.
Awi juga tak jarang memberikan bantuan dan dukungan konkrit kepada massa akar bawah. Bahkan, dia menulis dan mengirim sendiri pers rilis aktifitas politik bersentuhan dengan wong cilik kepada koleganya di media mainstream, termasuk penulis.
Sosok dan karakter Awi yang penulis kenal seperti itu. Sikap, perilaku, dan pergaulannya tak berubah. Sebagai wartawan dia egaliter. Di politik praktis kendati menyandang jabatan menterang, Awi tetap egaliter.
Dia tetap sederhana dan bersahaya, walau dia menjabat Ketua DPRD Surabaya: Kota dengan kapasitas budget sekitar Rp10 triliun setiap tahun dan ranah birokrasinya dikenal dengan sistem reward baik di Indonesia.
Itu realitas sosial yang penulis ketahui selama hampir 30 tahun bergaul dan bersahabat dengan Awi. Tak ada perubahan mencolok secara performance fisik, ekonomi, dan sosial.
Awi sebagai wartawan dan Awi sebagai politikus PDIP dan Ketua DPRD Surabaya tetap sama. Dia merepresentasikan pemimpin, tokoh, dan elite kaum Marhaen: Komunitas wong cilik yang pola hidupnya sederhana, egaliter, guyub, gandrung pada harmoni sosial, jauh dari kemewahan, hedonisme, apalagi flexing.
Dia mengedepankan dialog dan keseimbangan dibanding konflik dan dominasi. PDIP Surabaya benar-benar ditempatkan sebagai ‘rumah politik bersama’ kaum Nasionalis. Dia berusaha keras tak berkonflik dengan siapapun.
Kiprahnya di politik praktis tak cukup lama. Sekitar 25 tahun. Ketika memasuki usia 58 tahun, dia ‘dipangil’ Tuhan Yang Maha Menentukan Segalanya. Ketika posisinya berada di puncak kursi legislatif Kota Surabaya.
Legacy yang ditinggalkannya layak terus dikenang. Politikus itu mesti dekat dengan rakyat. Mendengar jerit hati nurani wong cilik. Membantu mereka dengan tangan kanan tanpa tangan kiri mengetahuinya.
Awi, politikus PDIP, tokoh dan pemimpin kaum Marhaen Kota Surabaya yang lebih suka memilih jalan sunyi dalam menapaki kiprah politiknya. Selamat jalan sahabat. Panjenengan orang baik dan berhati mulia. [air/but]
Ainur Rohim,
Penanggung Jawab dan Dirut beritajatim.com






