Jember (beritajatim.com) – Tak mudah bagi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Jember, Jawa Timur, mencopot alat peraga kampanye (APK) peserta pemilu selama masa tenang, 11 – 13 Februari 2024. Sejumlah petugas mengalami nahas saat menertibkan APK berupa baliho, bendera, sampai spanduk, mulai dari disengat lebah sampai mengalami kecelakaan lalu lintas.
Devi Aulia Rahim, komisioner Bawaslu Jember, mengatakan, semua peserta pemilu sebenarnya punya kewajiban APK yang mereka pasang. “Kami tidak langsung membersihkan sendiri, tapi memberi kesempatan kepada peserta pemilu untuk membersihkan sendiri sampai pada 11 Februari 2024 pada pukul tujuh pagi,” katanya, Senin (12/2/2024).
Selanjutnya, Bawaslu bersama Pemerintah Kabupaten Jember, TNI, Polri membersihkan APK. Selain staf kesekretariatan, Bawaslu Jember mengerahkan 7.706 orang petugas pengawas TPS. “Khususnya di wilayah masing-masing,” kata Devi.
Pembersihan ini butuh kerja keras. Apalagi tidak semua APK dipasang di lokasi yang mudah dijangkau. Sebagian dipasang di atas pohon yang tinggi dan menara listrik. “Ada yang ditaruh di besi papan petunjuk arah jalan. Petugas kami terpaksa naik sendiri, karena di kecamatan tak ada bantuan alat untuk naik,” kata Devi. Bahkan, ada APK yang dipasang di tengah sawah.
Sebagian APK gagal dicopot, karena berada di ketinggian. “Karena tidak memungkinkan, akhirnya oleh teman-teman dibiarkan,” kata Devi.
Devi memuji totalitas para petugas PTPS yang baru dilantik. “Ada yang sampai kena sengat lebah, karena ternyata di dekat APK itu ada sarang lebah. Matanya sampai tak terlihat saking bengkaknya,” kata Devi.
Ada juga petugas yang mengendarai kendaraan Tossa harus terguling dan terbalik, sehingga harus dibawa ke puskesmas. Luka di dahinya membutuhkan tiga jahitan. “Hari ini ada petugas yang belum sarapan, nggliyeng, jatuh dari sepeda motor. Ia dibawa ke puskesmas juga dan dagunya butuh tiga jahitan,” kata Devi.
Menurut Devi, tak hanya pembersihan APK, jajaran petugas Bawaslu Jember juga harus menyiapkan rumah data hasil pengawasan dan mengawasi logistik. “Semalam kami melakukan patroli pembersihan APK untuk memastikan pembersihan sudah dilaksanakan di 31 kecamatan. Kami perlu turun untuk memastikan betul, terutama di wilayah perkotaan, karena sangat luas,” katanya.
Bawaslu juga melakukan patroli pengawas terhadap tempat pemungutan suara (TPS) yang rawan. “Lumayan dua hari ini saya belum pulang ke rumah sama sekali. Ruang kerja saya di kantor Bawaslu Jember jadi rumah kedua,” kata Devi.
Sejauh ini, Bawaslu Jember sudah membersihkan kurang lebih 20.500 APK berupa baliho, bendera, spanduk. “Itu baru dari tiga kecamatan kota, yakni Sumbersari, Patrang, Kaliwates. Kami masih merekapitulasi dari kecamatan lain. APK dari 28 kecamatan lain tidak masuk ke gudang kami, tapi disimpan di masing-masing kecamatan,” kata Devi.
Barang APK tersebut tidak akan dikembalikan ke peserta pemilu. “Itulah kenapa kami kemarin memberikan kesempatan untuk dibersihkan sendiri,” kata Devi.
Rencananya APK akan dimusnahkan. “Namun kami masih harus berkoordinasi dengan Bawaslu Jawa Timur. Sementara ini kami masih sediakan gudang untuk menyimpan APK itu dalam dua bulan ke depan,” kata Devi. [wir]






