Jember (beritajatim.com) – Jepang dan Australia memiliki problem yang sama dengan Indonesia di sektor pertanian. Pemangku kepentingan sektor pertanian di Indonesia perlu belajar dari Australia dan Jepang, dalam 8th International Conference of Food, Agriculture and Natural Resources (IC-FANRes) sekaligus 2nd International Conference of Suistanable Industrial Agriculture (IC-SIA), di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, 24-25 November 2023.
Konferensi ini melibatkan 25 perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia, Australia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan lainnya. Ada sembilan pemateri kunci dan 130 peneliti yang mengirimkan karya tulis ilmiah dan mendiskusikan 14 tema.
Sejumlah tema yang dibahas antara lain rekayasa dan pemrosesan pangan, peoduk dan tanaman industri, rekayasa pertanian, peternakan, sosial ekonomi pertanian, nutrisi dan kesehatan pangan, pemanfaatan Geographic Information System (GIS) dan penginderaan jarak jauh serta tema lainnya.
Peneliti dari Deakin University Australia, Susan Brumby, menjelaskan, bahwa bencana kekeringan yang disebabkan perubahan iklim tak hanya mengancam budidaya pertanian tapi juga jiwa petani. Hal ini dikarenakan bencana kekeringan disertai kebakaran lahan. “Ini bencana nomor satu di Australia,” katanya secara daring.
Menurut Brumby, pemerintah Australia memberikan perhatian khusus kepada petani melalui beragam cara, antara lain program perlindungan dengan pendirian lembaga National Centre for Farmer Health. Pemerintah Australia mengembangkan sistem Rural Acute Hospital Data Register atau RAHDAR.
“Ini sistem yang memetakan wilayah yang berisiko tinggi dengan jaringan rumah sakit, sehingga begitu ada bencana kekeringan dan kebakaran lahan maka perlindungan bagi petani bisa dimaksimalkan,” kata Brumby.
Rektor Universitas Jember Iwan Taruna mengatakan, perlu dipikirkan upaya untuk mengantisipasi perubahan iklim. “Kita harus merespons, apakah itu mengganggu terhadap keamanan pangan kita?” katanya. Dalam hal ini budidaya pertanian yang presisi menjadi penting.
Sementara itu, Jepang menghadapi persoalan regenerasi sumber daya manusia petani yang mirip dengan di Indonesia. Yosuhiro Mori dari Rokuno Gakuen University menjelaskan, menuanya petani yang membuat lahan pertanian tak lagi digarap dengan baik.
Di sini, menurut Mori, Jepang berusaha memaksimalkan beragam aplikasi kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi untuk bidang pertanian. Mereka memanfaatkan GIS dan penginderaan jarak jauh untuk mengumpulkan beragam data, mulai dari kesuburan tanah, kondisi tanah, cuaca hingga penjadwalan masa tanam.
“Kami mendapatkan beragam data yang nantinya diolah. Hasilnya menjadi rujukan bagi petani kami untuk memutuskan akan menanam komoditas apa, lengkap dengan langkah yang harus dilakukan. Dengan begitu masalah sumber daya manusia bisa ditanggulangi, termasuk memanfaatkan internet of things seperti traktor tanpa pengemudi dan lainnya,” kata Mori.
Sementara itu, Iwan Taruna mengatakan, pemborosan dalam konsumsi pangan juga perlu mendapat perhatian. “Ini menyangkut perilaku juga. Makan tidak boleh tidak dihabiskan. Prinsip ‘mubazir’ di luar negeri malah sudah diperhatikan. Kalau kita ke restoran dan ada sisa makanan, bisa kena sanksi,” katanya. [wir]






