Surabaya (beritajatim.com) – Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur menegaskan bahwa pelaksanaan kompetisi Piala Soeratin kelompok usia, mulai dari U-13, U-15, hingga U-17, tidak dipungut biaya sama sekali. Ketua Asprov PSSI Jatim, Ahmad Riyadh, memastikan tidak ada pungutan liar (pungli) dalam ajang ini.
“Kami tidak ada biaya untuk tim yang ikut dalam kompetisi ini, semua gratis. Kalau pun ada biaya, itu hanya untuk tuan rumah,” tegas Ahmad Riyadh pada Jumat (20/6/2025).
Ia menjelaskan bahwa seluruh pembiayaan ajang Piala Soeratin di Jawa Timur bersumber dari berbagai pihak, termasuk APBD, sponsor, serta dukungan internal dari Asprov PSSI Jatim.
Keterangan ini sekaligus membantah berbagai isu miring terkait dugaan adanya pungutan liar (pungli) biaya pendaftaran.
Menurut Riyadh, kebijakan bebas biaya ini juga berlaku untuk kompetisi kelompok usia lainnya seperti U-13 dan U-15, yang akan digelar seminggu setelah dimulainya turnamen U-17.
Di sisi lain, Sekretaris PSSI Jatim, Djoko Purwoko, turut menepis anggapan bahwa tingginya antusiasme peserta tahun ini disebabkan karena ajang ini digratiskan.
Ia menjelaskan bahwa faktor utama meningkatnya jumlah peserta adalah keterbukaan Asprov dalam memperbolehkan klub mencari sponsor, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun ini klub-klub kita kasih pengertian agar administrasinya semakin tertib. Antusiasme meningkat karena mereka diberi keleluasaan mencari sponsor, bukan semata-mata karena gratis,” ujar Djoko, yang juga dikenal sebagai mantan jurnalis.
Djoko juga mengungkapkan bahwa biaya penyelenggaraan kompetisi kelompok usia ini cukup besar. “Biaya untuk U-17 saja hampir Rp1,5 miliar. Ini belum termasuk U-15, U-13, dan Liga 4. Totalnya bisa mencapai Rp7 miliar,” tambahnya.
Tahun ini, tidak ada perubahan regulasi pada gelaran Piala Soeratin kelompok usia. Ketentuan usia pemain yang dapat tampil masih sama dengan edisi sebelumnya.
Piala Soeratin U-17 2025 akan mulai digelar pada 9 Juli mendatang, dengan jumlah peserta mencapai 70 tim – meningkat signifikan dibanding tahun lalu yang hanya diikuti oleh 46 tim. Jumlah ini menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan peserta terbanyak di Indonesia.
“Dengan jumlah tim sebanyak ini, kami yakin provinsi lain tidak bisa menyamai atau melampaui Jawa Timur dalam hal pembinaan usia dini,” pungkas Ahmad Riyadh. (way/ted)






