Tuban (beritajatim.com) – Layaknya sinetron drama, seorang pekerja harian lepas di Gudang Garam Tuban berinisial SU (32) asal Kebonsari, Tuban yang berdomisili di Kelurahan Sumurgung, Tuban ini nekat melukai dirinya sendiri untuk lepas dari cicilan motor.
SU berpura-pura motor Honda Vario miliknya di begal oleh orang yang tidak dikenal di gang belakang RSUD Koesma Tuban. Untuk meyakinkan, SU nekat melukai tangannya dengan pemes atau pisau kecil, serta memukulkan kepalanya dengan batu.
Atas kejadian itu, SU langsung melapor kepada pihak Kepolisian Satreskrim Polres Tuban dengan tujuan mendapatkan surat laporan untuk diserahkan kepada pihak leasing, agar motor miliknya bisa lunas.
Kanit Pidum Satreskrim Polres Tuban, IPDA Moh. Rudi membenarkan adanya tindak pidana palsu. Saat itu, SU melaporkan kepada Satreskrim Polres Tuban, bahwa pihaknya kena begal dan motornya dibawa kabur.
“Namun, saat itu kami selidiki dulu, mulai dari cek rekaman cctv di area sekitar. Akan tetapi tidak ada tanda-tanda mencurigakan atau membawa kabur motor yang bersangkutan,” ujar IPDA Moh. Rudi. Minggu (14/09/2025).
Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata SU berbohong kepada pihak Kepolisian, tujuannya dari awal meminta surat kehilangan kendaraan bermotor yang akan diberikan kepada leasing. Sebab, SU sudah tidak sanggup lagi membayar cicilannya.
“Tapi sebelum itu, motornya sudah digadaikan dulu ke orang lain sebesar Rp 7 juta, lalu pada tanggal 1 september 2025, SU datang ke Adira (leasing) mengaku bahwa motornya hilang dibegal,” terang Rudi sapanya.
Pihak Kepolisian yang menaruh kecurigaan tersebut, karena kejadian di belakang RSUD Koesma Tuban sangat ramai terlebih pada pukul 13.00 Wib. “Kami juga memeriksa beberapa saksi-saksi disana dan tidak ada kejadian apapun,” kata Rudi.
Saat ditanya keterlibatan suami SU, Rudi menyampaikan bahwa suaminya tidak tahu apa yang dilakukan oleh SU, pengakuannya keluar mau ambil laundry dan ternyata bilang kalau kena begal. “Kami kenai pasal 220 Tipiring,” imbuhnya.
Sementara itu, SU mengaku pekerjaan di Gudang Garam ini hanya harian lepas dan gajinya tidak mencukupi kebutuhannya, terlebih membayar cicilan motor. “Gaji saja cuman Rp 500 ribu, suami juga kasih nafkah tapi tidak cukup, soalnya saya juga punya hutang,” kata SU kepada awak media. [dya/aje]






