Jakarta (beritajatim.com) – Amerika Serikat (AS) mengguncang geopolitik global setelah melancarkan operasi militer ke Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) dan menangkap Presiden Nicolás Maduro.
Dalam operasi tersebut, Maduro dilaporkan dibawa ke New York untuk menjalani proses hukum di AS karena terlibat terorisme narkoba.
Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya akan mengelola Venezuela untuk sementara waktu, sembari membuka peluang investasi besar-besaran bagi perusahaan minyak asal Amerika Serikat.
Langkah ini langsung memicu perhatian pasar global, mengingat Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia. Namun demikian, reaksi pasar komoditas terpantau relatif terkendali seperti dilaporkan financial times .
Harga Minyak Stabil Meski Ketegangan Meningkat
Pada perdagangan Senin (5/1/2026) pagi, harga minyak mentah Brent hanya mengalami kenaikan terbatas sebesar 0,5 persen ke level US$61 per barel. Kenaikan tersebut dinilai moderat meskipun Venezuela memiliki sekitar 17 persen cadangan minyak mentah dunia, melampaui Arab Saudi.
Stabilnya harga minyak disebabkan oleh rendahnya kontribusi produksi Venezuela terhadap pasokan global. Saat ini, produksi minyak negara Amerika Latin tersebut tercatat kurang dari 1 persen produksi minyak dunia, akibat sanksi internasional dan minimnya investasi selama bertahun-tahun.
Selain itu, peningkatan produksi minyak Venezuela dinilai tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat karena membutuhkan belanja modal (capex) besar dan proses pemulihan infrastruktur yang panjang. Hal ini membuat dampaknya terhadap suplai minyak global dalam jangka pendek relatif terbatas.
OPEC Tahan Produksi, Sentimen Migas Terbatas
Dalam pertemuan OPEC+ pada Minggu (4/1/2026), kelompok produsen minyak tersebut memutuskan untuk mempertahankan kebijakan produksi tanpa perubahan. OPEC+ menilai penyesuaian produksi sebagai respons atas situasi Venezuela masih terlalu prematur untuk dilakukan.
Dengan keputusan tersebut, sentimen positif terhadap saham-saham emiten minyak dan gas (migas) diperkirakan tidak akan signifikan dalam waktu dekat.
Emas Menguat, Saham Tambang Berpeluang Diuntungkan
Berbeda dengan minyak, harga emas justru melonjak seiring meningkatnya ketidakpastian global. Pada Senin (5/1/2026) pagi, harga emas dunia tercatat menguat 1,5 persen ke level US$4.397 per troy ounce.
Kenaikan emas ini berpotensi memberikan sentimen positif bagi saham-saham emiten tambang emas di Bursa Efek Indonesia, seperti BRMS, ARCI, dan HRTA, yang kerap diuntungkan saat investor mencari aset lindung nilai (safe haven).
Ketegangan geopolitik yang melibatkan Venezuela dan AS diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan global dalam beberapa waktu ke depan. (ted)






