Gresik (beritajatim.com) – Drama arus balik Lebaran Idul Fitri 1447 H kembali terjadi. Puluhan calon penumpang asal Pulau Bawean harus menelan kekecewaan setelah gagal berangkat menggunakan kapal KMP Gili Iyang tujuan Paciran, Lamongan.
Sedikitnya 42 penumpang terlantar di area pelabuhan karena tidak mendapatkan tiket. Sebagian memilih kembali ke rumah, sementara lainnya bertahan dengan menginap di sekitar pelabuhan demi berharap bisa berangkat keesokan harinya.
Kondisi ini memicu kepanikan dan kebingungan, terutama bagi mereka yang memiliki keperluan mendesak usai libur Lebaran.
Salah satu calon penumpang, Jamal asal Kecamatan Sangkapura mengaku kecewa karena sistem distribusi tiket dinilai tidak transparan. Ia bahkan rela menghanguskan tiketnya demi menemani sang adik yang tidak kebagian kursi.
“Saya sebenarnya sudah dapat tiket, tapi adik saya tidak. Karena dia harus segera kembali untuk belajar, saya akhirnya menunda keberangkatan,” ujarnya,” Jumat (27/3/2026).
Hal serupa juga dialami Mawi, pemuda asal Kecamatan Tambak. Ia mengaku sudah memesan tiket jauh hari sebelum Lebaran melalui jasa di pelabuhan, namun kenyataannya tetap tidak mendapatkan kursi.
“Saya sampai di pelabuhan, tapi tiket tidak ada. Terpaksa menginap di dekat sini, berharap besok ada tambahan,” ungkapnya.
Fenomena kehabisan tiket ini disebut bukan hal baru. Setiap tahun, masalah serupa terus berulang tanpa solusi nyata. Meski sudah ada tambahan armada seperti dua kapal cepat dan satu kapal ferry, kapasitas masih dianggap belum mampu menampung lonjakan penumpang.
Secara terpisah, pihak PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Surabaya mengaku telah berupaya mengajukan penambahan kapasitas penumpang. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena terbentur regulasi keselamatan dari pemerintah.
Manager Usaha PT ASDP Cabang Surabaya, M. Reza Fahlevi menjelaskan bahwa pihaknya harus memenuhi sejumlah persyaratan tambahan sebelum kapasitas bisa ditingkatkan.
“Kami diminta menambah 9 unit liferaft atau rakit penolong kembung. Saat ini baru tersedia 12 unit, sehingga belum memenuhi syarat untuk penambahan kuota,” paparnya.
Ia menambahkan, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama untuk memenuhi persyaratan tersebut dalam waktu singkat. Akibatnya, kapasitas kapal masih tetap di angka 196 penumpang sesuai Sertifikat Keselamatan Kapal Penumpang (SKKP).
“Kami sebenarnya siap menambah hingga 100 penumpang, tapi semua harus sesuai aturan dari kesyahbandaran,” pungkasnya. [dny/ian]






