Malang (beritajatim.com) – Indonesia sedang menghadapi ancaman besar dengan hilangnya identitas budaya yang berakar pada pangan lokal. Dr. Ari Ambarwati, SS, M.Pd., dosen Universitas Islam Malang (Unisma) dan peneliti literasi pangan berbasis kearifan lokal, dengan lantang menyuarakan keprihatinannya terhadap generasi muda yang semakin jauh dari tradisi agraris nusantara.
“Kita tidak hanya kehilangan padi, sagu, atau pangan lokal lainnya, tetapi juga kehilangan jati diri sebagai bangsa,” tegas perempuan yang telah meraih penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Timur untuk naskah cerita bergambar dwibahasa ini, Rabu (11/12/2024) pada beritajatim.com).
Ari menjelaskan bahwa pangan lokal lebih dari sekadar kebutuhan perut. “Pangan lokal adalah cerita, sejarah, bahkan doa yang diwariskan nenek moyang kita. Ketika kita mengabaikannya, kita sedang menghapuskan memori kolektif bangsa ini,” ujar penulis buku “Nusantara dalam Piringku” yang menjadi salah satu karya penting di Pekan Kebudayaan Nasional 2019.
Ia mencontohkan bagaimana tradisi agraris seperti mitos Dewi Sri hingga dongeng asal-usul sagu mengajarkan kita tentang hubungan harmoni antara manusia dan alam. Namun, menurutnya, cerita-cerita ini perlahan menghilang karena minimnya akses dan perhatian.
“Bayangkan, berapa banyak anak muda sekarang yang tahu bagaimana menanam padi, menyimpan hasil panen di lumbung, atau bahkan sekadar mengenali capung di sawah?” tanyanya retoris. “Ini bukan hanya soal makanan, ini soal hubungan kita dengan tanah air.”
Ari mengecam kebijakan pemerintah yang lebih memilih mengimpor pangan daripada memberdayakan varietas unggul lokal. Sebagai salah satu peneliti proyek “Eksplorasi Makanan Warisan dalam Cerita Anak dan Remaja Indonesia-Malaysia” yang berupaya melestarikan pangan lokal, ia mengungkapkan bahwa banyak padi unggul Indonesia justru diekspor ke luar negeri, sementara masyarakat lokal terpaksa mengonsumsi produk impor berkualitas rendah.
“Kita kehilangan kendali atas pangan kita sendiri. Petani berhenti menanam karena tanah dan air di sekitar sawah tercemar tambang emas. Sementara itu, pemerintah malah sibuk mengejar keuntungan dari ekspor,” katanya.
Ari juga menyoroti dampak kerusakan lingkungan akibat pola konsumsi yang salah. “Jejak karbon dari pangan impor sangat besar. Ironisnya, kita punya kekayaan lokal yang bisa menjadi solusi, tetapi malah dibiarkan mati,” tegas peneliti yang telah menggagas “Infografik Audivi Gastronomi Indonesia” untuk literasi pangan sekolah ini.
Sebagai pendidik dan pemenang naskah terbaik sayembara novel remaja dari Badan Bahasa 2024, Ari mengambil langkah konkret dengan menulis cerita anak dan remaja yang mengangkat tema pangan lokal. Ia percaya bahwa cerita bisa menjadi jembatan untuk menghubungkan generasi muda dengan tradisi masa lalu.
“Saya menulis kisah tentang makanan lokal yang menggunakan bahan ramah lingkungan, seperti daun pisang sebagai pembungkus. Bahkan, saya memasukkan unsur matematika dari bentuk geometris kue tradisional agar anak-anak melihat bahwa budaya kita kaya akan ilmu,” katanya.
Ari menegaskan bahwa pangan lokal tidak hanya tentang melestarikan masa lalu, tetapi juga tentang merancang masa depan. “Ketika kita kembali ke pangan lokal, kita tidak hanya menyelamatkan budaya, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan, menjaga lingkungan, dan mempersiapkan diri menghadapi krisis iklim,” ujar perempuan yang telah membimbing kurasi bacaan bertema perubahan iklim di komunitas Saung Kanak Malang ini.
Ia mengajak masyarakat untuk melihat pangan lokal sebagai identitas bangsa yang harus dipertahankan. “Jangan sampai anak cucu kita hidup di negeri yang tanahnya subur, tetapi makanan yang mereka konsumsi datang dari negeri jauh. Itu adalah bentuk kemunduran,” tegasnya.
Ari menutup dengan seruan agar masyarakat dan pemerintah bersama-sama menghidupkan kembali tradisi pangan lokal. “Kita harus menulis ulang sejarah pangan kita. Mulai dari sekolah, perpustakaan, hingga kebijakan nasional, semua harus bergerak untuk menjadikan pangan lokal sebagai prioritas,” katanya penuh semangat.
Menurutnya, ini bukan sekadar nostalgia, tetapi perjuangan untuk memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi bangsa yang kaya akan budaya, tradisi, dan keberlanjutan. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga warisan ini?”. (dan/but)






