Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) meraih gold winner dalam anugerah riset, teknologi dan pengabdian kepada masyarakat, kategori penelitian sub kategori institusi klaster utama. Raihan ini diberikan saat malam puncak anugerah Dikti Ristek karena Unisma meraih skor penelitian tertinggi periode 2020-2022.
Rektor Unisma, Prof Dr H. Maskuri, M.Si., menjelaskan bahwa selama 3 tahun ini, Unisma memiliki lonjakan luar biasa dalam bidang riset. Misalnya, hibah dari Dikti di tahun 2020 ada 18 judul didanai, 2021 26 judul yang didanai, kemudian tahun 2022 15 judul didanai.
“Dari tahun ke tahun lebih banyak pembiayaannya. Total selama 3 tahun ini, ada 59 skema yang telah dimenangkan Unisma dari Dikti,” tutur Prof Maskuri kepada awak media, Jumat (15/12/2023).
Unisma memiliki Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) yang di support oleh kebijakan Unisma bernama HIMA (Hibah Institusi Unisma). Ada langkah strategis di internal Unisma dan ada juga pendanaan dari luar Unisma. Baik hibah dikti, pemerintah daerah, internasional, maupun dana mandiri peneliti sendiri.
“HIMA dosen yang pada tahun 2020 sebanyak 82 orang, tahun 2021 sebanyak 377, dan tahun 2022 sebanyak 346, jadi totalnya yang mendapat HIMA sebanyak 805. Lalu penelitian internal mandiri, bagi para dosen tahun 2020 sebanyak 88, 2021 sebanyak 836, dan 2022 sebanyak 761, totalnya 1685,” jelas Guru Besar Unisma kelahiran Tuban ini.
Unisma juga mendapat pendanaan eksternal, non DRTPM sebanyak 177 proposal. Kemudian, penelitian Internasional, setiap tahun selama 3 tahun selalu ada 4 penelitian. “Terkait dana, yang didanai dikti 3 tahun terakhir, itu mencapai sekitar 12 miliar Rupiah lebih,” tegas Maskuri.
Dengan pencapaian ini, Rektor mengatakan bahwa Unisma sangat memperhatikan terhadap indikator kinerja utama (IKU) termasuk Unisma menuju World University Ranking (WUR) dan World Class University (WCU). Salah satu IKU ketika perguruan tinggi ingin punya reputasi internasional dapat dilakukan dengan penelitian dan pengabdian masyarakat.
“Sebagai lembaga akademik riset menjadi kunci. Riset menjadi pintu di dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus jadi basis di dalam pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.

Melalui riset, di samping dosen punya karya dalam bentuk buku, jurnal, paten, haki, video, publikasi, prosiding , media massa, sekaligus berimplikasi pada jabatan fungsional akademik untuk naik ke lektor kepala maupun guru besar.
“Termasuk juga, ada produk luaran yang sudah mengarah pada profit, kita siapkan laboratorium terpadu di jengglong, Kebonagung dan Karangploso, sebagai bagian dari pengembangan hasil riset para dosen yang melibatkan mahasiswa,” ungkap Maskuri.
Rektor mengapresiasi para dosen di lingkungan Unisma yang telah mengambil peran strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan. Capaian ini menciptakan daya saing tinggi dan berkontribusi untuk bangsa dan negara bahkan menciptakan citra baik di dunia internasional.
“Kami harap ke depan, dengan jumlah dosen sekitar 435, kita dorong, agar bisa 100% aktif ikut penelitian. Saat ini yang aktif melakukan penelitian 35% sampai 45% sekitar 60% belum terlibat aktif dalam riset dan pengabdian kepada masyarakat. Kita sudah ada klasterisasi, klaster pemula, madya, utama, semoga ke depan bisa 100%,” tutup Prof Maskuri. (dan/kun)






