Surabaya (beritajatim.com) – Asosiasi Peternak Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI) menyiapkan formula khusus agar peternak dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sarang walet mampu menjual produknya ekspor ke negeri china.
Perlu diketahui, pasar terbesar pengkonsumsi sarang walet adala negeri tirai bambu dengan konsumsi pertahun 8000 ton.
Hal itu disampaikan oleh ketua APPSWI Wahyudin Husein dihadapan awak media, Selasa (06/09/2022) dalam acara studi banding desa Sidomulyo bersama dengan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di CV Dwi Anugerah Tunggal di Jalan Kertajaya Indah.
Menurut Wahyudin, hingga kini di Indonesia hanya ada 30 badan usaha yang mampu langsung mengekspor ke China dengan jumlah 1800 ton per tahun.
“Kami juga ingin UMKM ini mampu tetapi kan untuk memenuhi standart ini butuh gotong royong. Jadi kami ingin menggandeng UMKM untuk bersatu agar ekspor ke china meningkat,” ujarnya.
Menurut Wahyudin, permasalahan utama di peternak dan penjual sarang walet di Indonesia adalah aturan dari negeri china yang memperbolehkan produk terbaik dan sesuai dengan standar yang berlaku.
“Masalahnya ada dua yakni instalasi untuk membersihkan produk sarang walet itu ada standarnya dan memang memakan biaya besar. Jika hanya sekelas UMKM pasti tidak mampu,” imbuhnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”umkm”]
Sementara itu, Andri Murdianto Ketua Litbangsis APPSWI mengatakan, jika UMKM tidak gotong royong maka akan kesulitan untuk menembus pasar ekspor. Rencananya, untuk membangun instalasi sesuai dengan kebijakan pasar China maka diperlukan sekitar 11 gabungan UMKM yang nanti bisa bersama-sama menggunakan instalasi.
“Ada semua standarnya, setidaknya 3 tahapan ruangan. Disesuaikan suhu udara, air, sirkulasi. Karena walet ini jika salah air saja maka hasilnya akan buruk dan jadi bahan yang ditolak,” tegasnya.
Ia berharap, agar pemerintah kedepannya lebih peduli kepada nasib UMKM agar ekonomi kerakyatan juga meningkat. Baginya, jika UMKM bisa menembus pasar ekspor maka serapan tenaga kerja akan luar biasa.
“Per orang itu sehari hanya mampu membersihkan sarang walet 15 buah. Sekarang pertahun saat ini kan 1800 ton. Bayangkan berapa pekerja yang diserap apalagi jika kita bisa memenuhi pasar China yang 8000 ton pertahun. Karena sarang walet ini tidak bisa menggunakan mesin harus keterampilan tangan,” pungkasnya. (Ang/ted)






