Bondowoso, (beritajatim.com) – Anomali cuaca yang terjadi di Bondowoso sepanjang tahun 2025 memberi dampak besar pada sektor pertanian, khususnya tembakau. Meskipun Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bondowoso sudah mengimbau petani untuk membatasi areal tanam, masih banyak petani yang terpaksa nekat menanam.
Kepala DPKP Bondowoso, Hendri Widotono, mengungkapkan bahwa langkah antisipasi telah dilakukan dengan mengadakan sosialisasi di berbagai kecamatan. “Jadi untuk anomali di tahun 2025 sudah diprediksi oleh BMKG. Langkah-langkah dinas pertanian dalam hal ini sudah keliling ke kecamatan-kecamatan untuk sosialisasi areal tanam,” jelas Hendri Widotono, Sabtu (23/8/2025).
Meski begitu, sebagian petani memilih tetap bertanam meski dengan risiko yang lebih besar. DPKP sebelumnya telah meminta informasi dari gudang-gudang tembakau terkait kapasitas serapan.
“Jika sudah melebihi areal (jika dikonversi dari permintaan ke luas tanam), maka kita imbau untuk membatasi tanam tembakau. Kita sudah me-warning,” tambah Hendri.
Tahun ini, luas tanam tembakau Bondowoso tercatat menurun menjadi 7.450 hektar, jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 10.000 hektar.
Namun, dorongan tradisional dan ekonomi mendorong petani untuk tetap bertanam meski biaya produksi semakin tinggi. Istilah “Mon Tak Namen Bekhoh, Tak Lakek” yang berarti “Jika Tidak Tanam Tembakau, Bukan Lelaki,” menggambarkan betapa kuatnya budaya bertani tembakau di daerah ini.
Hendri menambahkan, jika petani tetap menanam, mereka harus membuat tanian lebih tinggi dan memperdalam drainase, yang justru menambah beban biaya.
DPKP Bondowoso telah menyarankan agar petani beralih ke tanaman lain seperti jagung dan cabai. Namun kenyataannya, peralihan tersebut tak mudah bagi petani tembakau. “Kasihan petani. Saya tanya, ‘ini sudah sulam berapa kali?’ Dijawab, ‘bukan sulam tapi tanam 3-4 kali pak’. Kasihan. Tanam pertama mati, tanam kedua mati, sampai tanam ketiga atau keempat baru hidup,” ujar Hendri. Petani mengeluhkan biaya yang semakin membengkak akibat kondisi cuaca yang tidak menentu.
Di sisi lain, Ketua APTI Bondowoso, Yasid, mengungkapkan bahwa harga tembakau juga mengalami penurunan drastis. “Tahun kemarin daun bawah Rp50 ribu – Rp55 ribu. Daun medium dan top grade Rp65 ribu – Rp75 ribu. Sedangkan sekarang daun bawah Rp38 ribu – Rp40 ribu. Sekarang medium sampai top grade Rp50 ribu – Rp55 ribu,” katanya.
Petani pun merasakan kerugian lebih besar akibat penurunan harga tembakau dan kualitas tembakau yang menurun setelah terpapar hujan. Yasid menambahkan, “Unsur hara di tanah banyak tercuci air hujan. Aroma juga belum muncul. Karena aroma muncul kalau tanah kering. Sekarang jangankan aroma, rasa tembakau jadi pahit.” [awi/suf]






