Bondowoso (beritajatim.com) – Hujan deras disertai angin kencang yang terjadi baru-baru ini memberi dampak besar terhadap tanaman tembakau di Bondowoso.
Ketua APTI Bondowoso, Yasid, mengungkapkan banyak lahan tembakau yang tergenang, tanaman miring hingga roboh. “Dari hal tersebut tentu sangat berpengaruh kepada pertumbuhan. Tanaman yang roboh tidak teratur saling tindih, fotosintesis tidak akan terjadi secara normal,” jelas Yasid pada BeritaJatim.com, Kamis (21/8/2025).
Kondisi cuaca ekstrem ini juga memengaruhi kualitas daun. Menurutnya, kadar air yang tinggi membuat kadar nitrogen meningkat sehingga rasa tembakau cenderung pahit dan aroma tidak muncul sebagaimana mestinya.
Padahal, aroma merupakan salah satu parameter utama dalam menentukan harga jual selain warna dan tekstur (pegangan). “Tiga parameter itu – pegangan, warna, dan aroma – semua terpengaruh kondisi sekarang. Jadi otomatis harga ikut jatuh,” tegas Yasid.
Ia memaparkan, harga daun bawah saat ini hanya Rp38 ribu–Rp40 ribu per kilogram. Sedangkan daun tengah hingga atas Rp50 ribu–Rp55 ribu. Padahal, tahun lalu harga daun bawah masih Rp50 ribu–Rp55 ribu, dan daun tengah hingga atas mencapai Rp70 ribu–Rp75 ribu.
Tak hanya harga, produktivitas juga terancam turun. Untuk varietas Maesan 1 di lahan sawah, biasanya bisa menghasilkan 1,2–1,5 ton per hektar, bahkan lebih. Sementara di tanah tegal/gunung, produksi normal 8 kwintal–1 ton per hektar. “Namun dengan kondisi iklim yang tidak bersahabat, unsur hara tanah rendah, pH juga rendah, produktivitas diperkirakan hanya 1–1,2 ton di lahan sawah dan 7–8 kwintal di tanah tegal,” ujar Yasid.
Ia menambahkan, ambruknya tanaman tembakau akan terlihat dampaknya dalam beberapa hari ke depan. “Jika hujan masih berlanjut, kualitas dipastikan terus menurun dan petani terancam hanya mencapai titik impas atau bahkan rugi,” urainya. (awi/kun)






