Jakarta (beritajatim.com) – Pemerintah menaikkan anggaran riset nasional dari sekitar Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun dalam APBN 2026. Terkait hal tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI, Arzeti Bilbina mengingatkan, tambahan anggaran tersebut harus diarahkan secara jelas dan terukur, khususnya untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional.
“Kenaikan anggaran riset adalah langkah positif. Tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana dana Rp12 triliun ini juga turut berdampak bagi penguatan sistem kesehatan nasional dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, Selasa (20/1/2026).
Dia berpendapat, tanpa arah kebijakan yang jelas dan fokus pada kebutuhan riil sektor kesehatan, peningkatan anggaran riset berisiko tidak optimal dalam memperkuat ketahanan nasional. Menurut Arzeti, peningkatan anggaran riset ini merupakan momentum strategis untuk menjawab berbagai persoalan kesehatan yang masih dihadapi Indonesia, mulai dari beban penyakit menular dan tidak menular, ketimpangan layanan kesehatan antarwilayah, hingga ketergantungan pada produk dan teknologi kesehatan impor.
Anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Timur I, yang mencakup wilayah Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya ini juga memaparkan, ada beberapa prioritas terkait riset yang perlu diperhatikan. Pertama, penguatan riset dan pengembangan sumber daya manusia kesehatan. Menurutnya, riset harus mendukung upaya pemenuhan kebutuhan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan spesialis, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kedua, penguatan kolaborasi riset nasional dan internasional. Arzeti mendorong sinergi antara perguruan tinggi, lembaga riset, industri kesehatan, dan mitra global untuk mempercepat inovasi, alih teknologi, serta kemandirian industri farmasi dan alat kesehatan nasional.
Ketiga, pengembangan riset berbasis potensi lokal. Ia menilai Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas dan sumber daya herbal yang sangat besar, sehingga riset ilmiah berbasis bukti terhadap obat tradisional dan bahan alam perlu diperkuat agar dapat berkontribusi pada sistem kesehatan dan ekonomi nasional.
“Keempat, riset terapan untuk ketahanan kesehatan nasional harus menjadi fokus, termasuk riset penyakit endemik, peningkatan kapasitas laboratorium, sistem informasi kesehatan, serta kesiapsiagaan dan mitigasi risiko kedaruratan kesehatan,” kata Arzeti. [hen/aje]






