Ngawi (beritajatim.com) – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Ngawi berdemonstrasi pada Senin (26/08/2024). Puluhan mahasiswa itu menyoal indeks kemiskinan Ngawi yang tertinggi keenam se-Jawa Timur. Tak hanya itu, puluhan petani meninggal selama 7 tahun terakhir karena jebakan tikus beraliran listrik mencapai 46 korban jiwa.
Massa aksi menggelar long march dari Tugu Kartonyono sampai Alun-Alun Ngawi. Mereka tak bisa melanjutkan long march sampai Pendapa Wedya Graha Ngawi. Massa aksi hanya bisa menunggu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang masih menjalani pelantikan di pendapa.
Erliana Puspitasari, Koordinator Aliansi BEM Ngawi mengatakan, pihaknya mengawal soal putusan MK. Kemudian, mereka membawa isu lokal yakni terkait kemiskinan dan soal jebakan tikus yang merenggut nyawa para petani.
“Kita ketahui bersama bahwa Ngawi sejak 2018 sampai 2023, terus jadi peringkat enam tertinggi soal kemiskinan. Meski angka indeks kemiskinan turun, tapi masih di peringkat enam terus. Sangat disayangkan, padahal Ngawi penyumbang produksi padi terbanyak kedua di Jawa Timur,” terang Erliana saat menggelar aksi.
Kemudian, mereka menyorot puluhan petani meninggal jadi korban imbas jebakan tikus beraliran listrik. Hal itu dianggap ironi lantaran harus ada korban di sektor pertanian Ngawi.
“Yang unggul di Ngawi ini kan pertanian, tapi kok sampai ada korban jiwa. Dalam 7 tahun, ada 46 yang meninggal. Kami harap wakil rakyat yang baru menemui kami, menampung aspirasi kami. Harapannya wakil rakyat baru ini nanti membuat kebijakan yang pro rakyat, terlebih petani,” katanya.
Hingga pukul 10.43 WIB, para mahasiswa masih belum ditemui oleh perwakilan anggota DPRD. Mereka memilih bertahan di Alun-Alun Ngawi sampai pukul 12.00 WIB. [fiq/but]






