Kediri (beritajatim.com) – Berikut aktivitas santri pondok pesantren (Ponpes) Lirboyo Kediri selama bulan suci Ramadhan 1445 Hijriah. Mulai ibadah wajib, santri mengikuti kegiatan rutin mengaji.
Abdul Mujib, salah satu pengurus Ponpes Lirboyo Kediri mengatakan, para santri mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan mengaji dari pagi hingga malam hari. Jargon andalan mereka ‘Selalu Ngaji’
“Jadi ada persiapan persiapan yang sudah dilakukan terutama oleh calon calon santri baru yang akan masuk lirboyo itu mulai dari Ramadhan,” tutur Abdul Mujib.
Selain kegiatan mengaji dari pagi hingga malam hari, imbuh dia, juga terdapat bimbingan atau persiapan yang dikhususkan bagi santri yang masih kecil. Mereka adalah para santri belum bisa baca tulis untuk menyongsong pelajaran baru usai Idul Fitri.
“Jadi yang berada di Lirboyo itu hampir pasti semuanya ngaji. Kalau mungkin kitab yang dikaji beda beda tergantung tingkatannya, sesuai kemampuannya. Ada yang tingkat dasar, menengah hingga yang tinggi,” tambahnya.
Untuk agenda Nuzulul Quran, pihaknya secara resmi tak memperingati secara besar-besaran. Sebelumnya di tanggal 17 Ramadhan, masih terdapat kegiatan ngaji di ponpes ini.
“Kemarin di tanggal 17 Ramadhan ada kegiatan ngaji dan agenda ke depan ini. Ahad sore itu kita ada haul masyayikh,” ungkapnya.
Jumlah santri Ponpes Lirboyo periode saat ini mulai dari pondok induk, pondok utama dan pondok cabang sekitar 45.000 lebih santri putra putri. Khusus di pondok induk ada sekitar 15.000 santri putra.
Sejarah Ponpes Lirboyo Kediri
Diketahui, Ponpes Lirboyo Kediri didirikan oleh KH Abdul Karim. Penamaan ponpes ini sendiri diambil dari nama desa setempat (sekarang kelurahan) Lirboyo di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Ponpes Lirboyo Kediri ada di barat Sungai Brantas dan dilembah Gunung Wilis. Awal mula berdirinya pesantren salafiyah ini erat kaitannya dengan kepindahan KH Abdul Kharim ke Desa Lirboyo, pada tahun 1.910 M.
Berdiri sejak puluhan tahun sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia, Ponpes Lirbiyo berkembang menjadi pusat studi islam. Bahkan pesantren ini juga ikut berperan dalam pergerakan perjuangan dan mengirimkan santri-santrinya ke medan perang. Salah satunya dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Ponpes Lirboyo telah mencetak generasi bangsa yang cerdas ruhaniyahnya. Selain itu juga pintar, dan mumpuni dalam keberagaman ilmu. Pesantren yang satu ini mengkolaborasikan antara tradisi yang mampu mengisi kemodernitasan dan melahirkan banyak tokoh saleh keagamaan dan saleh secara sosial. [nm/suf]






