Awal dilantik menjadi bupati Jember 2025-2030 pada 20 Februari 2025, Muhammad Fawait mengaku tak bisa tidur nyenyak.
“Saya kepikiran kalau malam-malam ada warga kita yang sakit tidak bisa mendapatkan layanan kesehatan,” katanya.
Pria kelahiran 8 Februari 1988 itu teringat benar pesan ibundanya, Masluhah Mansur Chodori, saat menapakkan kaki di Pendapa Wahyawibawagraha.
“Kalau ada orang Jember sakit enggak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, yang dosa bupati.”
“Kalau ada seorang ibu mau melahirkan tapi melahirkannya tidak di tempat semestinya karena faktor biaya, yang dosa adalah bupati.”
“Kalau ada bayi yang lahir dan meninggal bukan karena urusan takdir, tapi karena tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik karena faktor biaya, maka yang dosa bupati.”
Fawait sendiri punya kenangan pahit masa kecil di desa. “Saya melihat tetangga saya sakit tapi dibiarkan di rumah karena keterbatasan biaya,” katanya.
Maka hal pertama yang dilakukannya adalah memastikan layanan dan perlindungan kesehatan berkeadilan bagi warga Jember.
Namun dia terkejut, karena Pemerintah Kabupaten Jember memiliki tanggungan utang Rp 214 miliar kepada tiga rumah sakit daerah. “Ketika dilantik, hanya hitungan minggu pada waktu itu rumah sakit kita bisa kolaps,” kata Fawait.
Stok oksigen hanya tersedia untuk tujuh hingga 15 hari. Suplai barang-barang kebutuhan rumah sakit daerah mulai dihentikan.
“Kondisi rumah sakit hampir kolaps, tapi di satu sisi rakyat kami banyak yang miskin dan membutuhkan pelayanan kesehatan gratis dan baik. Ini menjadi sebuah dilema. Mana yang mau diatasi terlebih dahulu,” kata Fawait.
Fawait harus memastikan krisis kesehatan teratasi dan warga Jember bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis tanpa mengorbankan tenaga kesehatan atau keberlangsungan rumah sakit.
Maka Fawait memutuskan untuk mengikutsertakan rakyat Jember dalam program Universal Health Coverage (UHC) Prioritas yang dikelola Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dengan program ini, seluruh Jember warga mendapatkan akses layanan kesehatan gratis dan cepat, cukup dengan KTP/KK tanpa perlu mengurus administrasi BPJS Kesehatan terlebih dahulu.
Namun tentu saja syaratnya tak mudah. Cakupan kepesertaan BPJS Kesehatan di daerah itu harus di atas 98 persen dengan keaktifan di atas 80 persen. Sementara saat itu baru 57 persen peserta Jaminan Kesehatan Nasional di Jember yang aktif membayar iuran.
Ini membutuhkan komitmen anggaran Pemerintah Kabupaten Jember. Pemkab Jember harus memastikan tersedia cukup anggaran untuk meningkatkan jumlah peserta aktif. Maka Bupati Fawait memutuskan efisiensi anggaran sebagaimana diperintahkan Presiden Prabowo Subianto.
“Anggaran pengadaan mobil untuk bupati saya batalkan. Beberapa anggaran yang tidak langsung berefek kepada masyarakat saya batalkan. Saya kumpulkan anggaran-anggaran tersebut untuk memastikan predikat Universal Health Coverage (UHC) Prioritas,” kata Fawait.
Namun tak cukup banyak duit terkumpul dar hasil pangkas sana sini. “Anggaran yang tersedia dalam APBD 2025 awal masih kurang, sehingga kami melobi pemerintah pusat, termasuk kepada BPJS Kesehatan, meyakinkan mereka bahwa Jember mampu,” kata Fawait.
Hasilnya: program UHC Prioritas diberlakukan mulai 1 April 2025. Hanya kurang dari dua bulan setelah Fawait resmi menjadi Bupati Jember.
Pemkab Jember mengalokasikan Rp 430 miliar dalam APBD Jember 2026 untuk UHC. Peserta UHC di Jember sendiri hingga 1 Oktober 2025 mencapai 2.592.381 orang atau 98,74 persen dari total. penduduk.
“Masyarakat Jember bisa berobat gratis dengan layak tanpa ada surat keterangan miskin atau keterangan tidak mampu. Tapi di satu sisi, kita bisa membuat rumah sakit daerah bisa mendapatkan kembali hidupnya,” katanya.
Kinerja keuangan Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi membaik. “Hari ini pendapatan dr. Soebandi saja dalam sebulan terakhir Januari, saya update, kalau enggak salah Rp 31 miliar,” kata Fawait.
Selasa, 27 Januari 2026, Bupati Fawait menerima penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Awards 2026 Kategori Madya, dalam seremoni nasional, di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Akhirnya Bupati Fawait bisa tidur lebih nyenyak. [wir]






