Surabaya (beritajatim.com) – Akademisi Unair (Universitas Airlangga) Surabaya Gagas Gayuh Aji menyebut jika saat ini kampanye digital, buzzer dan distorsi narasi menjadi makanan sehari-hari gen Z.
Seperti diketahui, kini politik tanah air dipenuhi warna oleh generasi Z dan millenial. Data KPU menyebut bahwa 55 persen dari pemilih pada Pemilu 2024 didominasi oleh generasi muda.
Hasil penelitian tim litbang Kolokium.id yang melibatkan Gagas Aji bersama Candika Wira Angga, dan Hari Widodo, membeberkan secara mendalam terkait dinamika pilihan politik generasi muda.
Dengan mayoritas responden dari kalangan anak muda berusia 17-30 tahun, data internal Kolokium.id menyoroti fakta bahwa perempuan mendominasi layar gawai kita dan menjadi pilar utama dalam memengaruhi dinamika politik Indonesia.
Jauh dari stereotip yang menganggap generasi muda sebagai pemilih yang impulsif, data Kolokium.id menggambarkan suatu realitas yang lebih kompleks.
“Mayoritas dari generasi ini cermat dalam menilai visi, misi, dan rekam jejak calon presiden dan wakil presiden. Keberadaan informasi yang mudah diakses secara digital menjadi poin kunci dalam pertimbangan mereka,” kata Gagas, Rabu (31/1/2024).
Seiring berjalannya waktu, data internal Kolokium.id mencatat bahwa hingga 31 Januari 2024, sebanyak 69,9 persen dari generasi muda ini telah memantapkan keyakinan tinggi terhadap pilihan politiknya.
Namun, sisanya masih meraba-raba, diperparah oleh ketidakpuasan terhadap kandidat dan partai, serta keraguan terhadap sistem politik Indonesia yang eksisting.
“Kampanye yang meraih perhatian tertinggi di kalangan responden adalah debat calon dengan angka 74,8 persen, diikuti oleh konten media sosial sebesar 73,8 persen,” ungkap Gagas.
Ia menilai bahwa media sosial menjadi sarana utama bagi generasi muda untuk merajut kisah politik mereka. Generasi ini tidak hanya sebagai pemilih pasif, melainkan juga sebagai produsen dan konsumen konten politik.
“Penggunaan media sosial oleh gen Z tidak hanya sekadar tren, tapi juga membentuk landasan perilaku dan pandangan politik mereka,” jelas Dosen Manajemen Perkantoran Digital Fakultas Vokasi Unair tersebut.
Tak hanya itu, di tengah cemerlangnya media sosial, terdapat juga permasalahan serius terkait etika digital dan peran buzzer yang semakin membesar. Fenomena buzzer, dengan kepiawaiannya menyebarkan narasi yang mendukung pihak tertentu, menciptakan lingkungan informasi yang terdistorsi.
“Permasalahan etika digital dan peran buzzer telah mencoreng warna cerah media sosial. Informasi yang disajikan seringkali tidak netral dan terkadang menyimpang dari fakta,” tegasnya.
Dalam menghadapi kompleksitas ini, ia mengajak untuk lebih berhati-hati dan kritis dalam menyikapi informasi yang beredar di dunia maya. “Etika digital bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan untuk memastikan bahwa informasi yang disajikan adalah cerminan kebenaran, bukan hasil manipulasi buzzer,” tegasnya.
Dengan fakta bahwa 55 persen pemilih di Pemilu 2024 didominasi oleh generasi muda, kompleksitas tinggi dalam perjalanan politik tanah air semakin nyata. Dinamika ini menuntut para pemilih muda untuk tetap kritis dan cerdas dalam menyikapi informasi serta menentukan pilihan politiknya.
“Masa depan politik Indonesia semakin diwarnai oleh nuansa yang penuh kompleksitas dan misteri, seiring dengan perubahan landscape politik yang terus berkembang,” tandasnya. [ipl/suf]






