Kalangan akademisi menilai portal jurnalisme Beritajatim.com saat ini menghadapi dua tantangan yang membutuhkan kecerdasan, kreativitas, komitmen, dan nyali, agar bisa membumikan slogan ‘menyinari perjalanan, menerangi masa depan’.
Muhammad Iqbal, pengajar ilmu komunikasi Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyebut Beritajatim.com berdiri pada 1 April 2006, sewindu masa transisi dan transformasi otonomi daerah yang menjadi amanat penting agenda Reformasi Mei 1998.
“Para pendiri Beritajatim.com tentu ketika itu sudah punya kalkulasi yang matang untuk menyiapkan awak medianya dengan standar kualitas kompetensi jurnalis dan manajemen media yang handal,” kata Iqbal, Kamis (24/4/2025).
Kini Beritajatim.com menghadapi dua tantangan besar, yakni disrupsi teknologi informasi dan komunikasi digital, dan tantangan dinamika ekonomi politik domestik dan geopolitik yang cukup pelik dan sarat ketidakpastian.
“Aneka fitur dan mesin algoritma big data, bahkan masifnya ketergantungan yang tidak masuk akal dan cenderung irasional pada teknologi kecerdasan buatan, bisa memaksa model bisnis manajemen media online terjerumus dalam pusaran yang sekadar mengeksploitasi atensi, interaksi, serta clickbait atau sensasi untuk memancing perhatian pengguna semata,” kata Iqbal.
Jika tak hati-hati, fokus sebuah media jurnalisme seperti Beritajatim.com bisa bergeser dari media yang memberitakan kebutuhan publik menjadi media yang mengunggah informasi yang hanya diinginkan publik.
Tantangan Politik
Sementara itu, tantangan dan lingkungan sosial politik yang dihadapi Beritajatim.com pada masa awal berdiri dengan saat ini sangat berbeda dan lebih pelik.
Iqbal menyebut, pada saat berdiri, ada peningkatan tren pesat layanan berita berbasis internet, dan kehadiran berita mikro-lokal yang mengedepankan kedekatan isu berita dengan kebutuhan dan kepentingan layanan publik warga lokal.
“Warga Jawa Timur sangat memerlukan asupan informasi bergizi gratis yang terkoneksi secara cepat, mudah akses dari kaca mata dan pena jurnalis daerahnya sendiri, bukan sudut mata Jakarta atau apalagi kuasa istana,” kata Iqbal, Kamis (24/4/2025).
Apalagi pada 2005 untuk pertama kalinya pemilihan kepala daerah langsung digelar. “Perjalanan otonomi daerah dan satu tahun pertama pilkada jelas sangat memerlukan produk jurnalisme yang setia mengawal kepentingan warga Jawa Timur,” kata Iqbal.
P:roduk jurnalisme itu harus memegang teguh elemen pertama prinsip jurnalisme, sebagaimana ditegaskan Bill Covach dan Tom Rosentiel, yakni setia dan berpihak kepada kepentingan warga.
Saat ini, lanjut Iqbal, Beritajatim.com hidup di bawah tatanan global yang tengah mengalami eskalasi konflik geopolitik dan ketegangan perang dagang akibat arogansi “Tarif Trump”.
“Ditambah enam bulan pemerintahan Prabowo-Gibran yang terseok lantaran sejumlah indikator ekonomi makro dan mikro masih belum memberikan banyak harapan perubahan,” kata alumnus Universitas Airlangga Surabaya ini.
Semua itu bisa berdampak serius terhadap roda pembangunan masyarakat Jawa Timur. Apalagi muncul gelombang protes dan kritik masyarakat sipil. “Tentu saja itu harus disikapi awak media Beritajatim.com dengan lebih bijak, dengan tetap teguh memegang semua prinsip elemen jurnalisme,” kata Iqbal.
Apalagi, lanjut Iqbal, Beritajatim juga pernah tertimpa tekanan dan ancaman saat menjalankan fungsi pers dan jurnalisme publik. “Serangan siber berupa distributed denial of service (DDos) pernah memaksa Beritajatim mengalami kerugian dan tidak bisa melayani arus informasi untuk warga Jatim,” katanya.
Tetap Optimistis
Dari sini Iqbal berpendapat, kecerdikan dan kreativitas profesional dalam menjalankan manajemen strategi bisnis di tengah situasi sarat tekanan dan ketidakpastian ini menuntut para jurnalis Beritajatim.com bisa mengelola energi mereka.
“Meminjam istilah Bob Franklin, untuk ‘attacking the devil, menyerang iblis’, dan memperjuangkan kepentingan pembaca,” kata Iqbal.
Sementara itu, Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, berpendapat, media massa daring saat ini dihadapkan pada beberapa tantangan.
“Pertama, persaingan dengan aplikasi media sosial yang dikuasai oleh perusahaan over the top. Juga persaingan konglomerasi media yang merambah ke dunia digital,” kata Fajar.
Berikutnya adalah persaingan dengan kreator konten dalam proses produksi informasi. “Media massa online menganut proses news gathering yang ketat demi verifikasi informasi. Sedangkan kreator konten acapkali meninggalkan aspek ini,” kata Fajar.
“Ketiga, audiens yang semakin terliterasi. Audiens di masa digital berada pada posisi negotiated reading, dan bahkan oppositional reading dalam encoding-decoding,” kata pria asal Madiun, Jawa Timur ini.
Fajar berharap Beritajatim.com semakin meningkatkan kualitas berita, meningkatkan keterlibatan dengan audiens pembaca melalui platform user generated content, dan menjaga Marwah jurnalisme yang berkualitas.
“Semoga perjalanan 19 tahun Beritajatim.com semakin menyala menjadi suluh yang “menyinari perjalanan, menerangi masa depan,” tambah Iqbal. [wir]






