Jember (beritajatim.com) – Seni dapat menjadi alat komunikasi yang kuat untuk mendukung penyintas kekerasan seksual atau sarana advokasi dan pemberdayaan korban.
“Ilustrasi ramah perempuan adalah representasi yang berdaya. Ilustrasi yang ramah terhadap korban kekerasan seksual harus bisa meliputi tiga hal penting,” kata Zuhanna A.Z, aktivis Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI), dalam acara diskusi interaktif ilustrasi ramah perempuan di di Aula Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (10/12/2024).
Pertama, melindungi martabat lorban dengan tidak menunjukkan eksploitasi tubuh, ekspresi ketakutan, atau adegan kekerasan yang vulgar. “Gunakan simbol-simbol yang bermakna untuk menggambarkan pengalaman korban tanpa harus merekonstruksi kejadian traumatis secara visual,” kata Zuhanna.
Ilustrasi tersebut hendaknuya juga menggambarkan pemulihan dan kekuatan: “Fokus pada proses pemulihan korban, seperti menggambarkan perempuan yang berdiri tegak dengan latar penuh cahaya, memegang simbol harapan seperti buku, bunga, atau pena,” kata Zuhanna.
Ada perpaduan elemen visual yang memberikan kesan perlindungan, solidaritas, dan pemberdayaan. “Misalnya lingkaran orang yang saling bergandengan tangan atau pohon kehidupan,” kata alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember ini.
Terakhir, AJI Indonesia mengajak para jurnalis, ilustrator, dan kreator konten untuk menghilangkan narasi menyalahkan korban: “Tidak menyertakan elemen visual yang menyiratkan korban bersalah, seperti pakaian tertentu, ekspresi lemah, atau lingkungan yang rentan. Kita bisa menggunakan pendekatan netral, yang memperlihatkan korban sebagai individu yang kuat dan bermartabat,” kata Zuhanna.
Zuhanna berharap media massa lebih memahami tanggung jawabnya, masyarakat lebih peduli, dan penyintas merasa lebih didukung. “Melalui pendekatan ini, ilustrasi tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai alat advokasi yang kuat untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap korban kekerasan seksual,” katanya. [wir]






