Pamekasan (beritajatim.com) – Tatanan kehidupan manusia tidaklah selalu berjalan mulus seperti yang diharapkan, sebab adakalanya justru ada saat merasa lelah, kehilangan semangat, atau bahkan merasakan kesedihan yang teramat dalam.
Sekalipun terkadang suatu kehidupan sosial diharapkan agar selalu tampil bahagia, tersenyum hingga menyembunyikan perasaan negatif. Namun yang pasti setiap manusia juga berhak merasa lelah, sedih dan harus melalui proses penyembuhan yang membutuhkan durasi waktu relatif lama.
Namun yang pasti perasaan lelah merupakan sifat alamiah dari sebuah kehidupan manusia, sekalipun terkadang dalam kehidupan duniawi dibutuhkan tuntutan dan tekanan, baik dalam pekerjaan, tugas atau tanggungjawab sehari-hari.
Bahkan tidak menutup kemungkinan, sebagian di antara manusia juga ada yang merasa dirinya penting dan superior dibanding manusia lainnya. Sekalipun sifat tersebut terkadang justru membuat lelah, dan bahkan bisa berujung pada perilaku yang kurang bertanggung jawab.
Baca Juga: Mahasiswa KIP Kuliah IAI Al-Khairat Pamekasan Digembleng Materi Menulis Melalui Program AWS
Merasa lelah atau capek itu merupakan salah satu sinyal jika tubuh dan pikiran kita butuh waktu untuk istirahat, dan tentunya untuk merawat diri sendiri untuk sekedar refresh.
“Sangat penting untuk memberikan ruang dan waktu bagi kita untuk mengisi ulang energi, baik dengan cara tidur yang cukup beristirahat maupun healing,” kata Konselor Laboratorium BKPI IAI Al-Khairat Pamekasan, Aizun Riski Safitri, Sabtu (27/1/2024).
Bahkan ia menilai jika rasa bersalah atau malu saat merasa capek, justru dapat menjadi sinyal penting bahwa sebagai manusia pastinya memiliki keterbatasan yang tidak bisa dipaksakan.
“Selama ini kita seringkali terjebak dalam harapan bahwa hidup harus selalu bahagia dan penuh kegembiraan. Perasaan sedih ada respon alami terhadap kehilangan, kekecewaan atau pengalaman yang sulit dalam kehidupan,” ungkapnya.
Baca Juga: 40 Mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan Tandatangani Pakta Integritas
Tidak hanya itu, manusia juga memiliki hak untuk merasakan capek dan sedih tanpa harus dipaksa bisa untuk tersenyum. “Lebih penting lagi, kita harus memberikan izin pada diri kita sendiri untuk merasakan emosi yang kita alami,” jelasnya.
“Tidak kalah penting, mengabaikan perasaan capek hanya akan memperpanjang proses penyembuhan, dan bahkan berdampak negatif pada kesejahteraan secara keseluruhan. Sehingga penting bagi kita mengizinkan diri kita bersedih, mencari dukungan dari orang-orang terdekat, sekaligus mengambil waktu yang diperlukan untuk kembali pulih,” imbuhnya.
Hal tersebut juga sempat disampaikan saat mengisi materi Al-Khairat Writing Skill (AWS) di Meeting Room IAI Al-Khairat Pamekasan, Senin-Selasa (22-23/1/2024) lalu. Di mana setiap manusia dinilai memiliki kepribadian berbeda dan terstruktur.
“Sama seperti membangun sebuah gedung, di mana harus ada dasar, pilar, dan tembok untuk melengkapi. Hal yang sama juga berlaku untuk mental kita yang di personifikasi menjadi kepribadian dengan tiga struktur yang disebut id, ego dan super ego,” beber Risa.
Baca Juga: IAI Al-Khairat Pamekasan Sebar 90 Mahasiswa PLKBI di 6 Titik di Jawa Timur
Struktur paling bawah biasa disebut id berupa dorongan agresif, dorongan yang membuat manusia bisa berpikir pendek untuk memenuhi hasrat semata dan cenderung ke arah negatif. “Sebaliknya struktur teratas disebut superego sebagai dorongan untuk bisa diterima lingkungan, biasanya lebih mengarah pada norma-norma sosial,” imbuhnya.
“Sedangkan ego sendiri sebagai pengendali kepribadian kita, dan disinilah ego berperan penting dalam rangka mengendalikan agar id dan superego tidak lebih menguasai dari yang lain,” sambung dosen yang juga tercatat sebagai Kaprodi BKPI IAI Al-Khairat Pamekasan.
Dari itu, sangat tidak mudah menjadi ‘orang penting’, karena secara umum selalu dituntut menjadi pribadi yang perfect, padahal setiap manusia memiliki titik kulminasi yang berbeda. “Ketika kita dari ‘no body menjadi some body‘, maka disitulah ego kita berperan, baik atau tidaknya tergantung dari pengendali kepribadian kita,” tegasnya.
“Hal ini juga berlaku bagi mahasiswa penerima program KIP yang harus menyeimbangkan ego, karena selain mendapat kelebihan dengan program beasiswa (menjadi kesenangan), tetapi di sisi lain juga harus menerima aturan yang harus dilaksanakan sebagaimana mestinya,” pungkasnya. [pin/ted]






