Surabaya (beritajatim.com) – Kericuhan yang terjadi saat pertandingan Liga 1 BRI antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya membuat 129 orang meninggal dunia mendapat perhatian khusus dari pengurus Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (A2K3) Jatim, Edi Priyanto.
Dikatakan, sejumlah stadion di Indonesia kurang menyiapkan pentingnya Emergency Respon Plan (ERP) sehingga tidak bisa mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Secara pribadi dan asosiasi, kami turut prihatin dan menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban kejadian semalam di stadion Kanjuruhan Malang. Namun, tanpa menyalahkan siapa pun, kejadian tersebut patut menjadi sebuah pembelajaran bersama (lesson learned) agar kejadian serupa tidak sampai terulang kembali,” kata Edi di Surabaya, Minggu (2/10/2022).
Dikatakan, dalam sebuah penyelenggaraan acara yang melibatkan masyarakat dalam jumlah yang cukup besar, perlu mengevaluasi standar bangunan dan kelengkapannya, apakah telah sesuai, tentunya itu bisa mengacu pada Peraturan Menteri PUPR Nomor 26 tahun 2008.
Selain itu, kata dia, cukup penting melakukan kajian ulang risiko terhadap bangunan gedung stadion, seperti bagaimana mengeluarkan semua orang dari stadion karena tidak mudah melakukan hal itu dalam waktu singkat.
“Jumlah dan jalur evakuasi, seperti lebar pintu masuk tribune yang ideal, petunjuk jalur evakuasi yang ditandai garis yang akan menyala jika listrik padam,” kata Edi.
Hal yang tidak kalah penting, kata dia, memberikan edukasi kepada masyarakat dengan cara melakukan induksi dan briefing bagaimana cara melakukan evakuasi keadaan darurat kepada seluruh penonton, agar sudah siap dan tahu harus kemana ketika terjadi kondisi darurat.
Dia menjelaskan, keselamatan masyarakat penanganan keadaan darurat pada dasarnya bertujuan untuk meminimalkan korban pada saat bencana atau keadaan darurat.
[berita-terkait number=”4″ tag=”arema-vs-persebaya”]
“Di Indonesia keselamatan dalam kegiatan masyarakat mungkin kedengaran masih asing dan belum banyak mendapat perhatian, padahal jika ditelusuri banyak kegiatan olah raga, seni atau pun kegiatan yang melibatkan pengumpulan massa dapat membahayakan, bukan hanya pelaku olahraga atau seni namun juga bagi penonton,” kata dia.
Menurut dia, setiap fasilitas umum yang dipergunakan untuk pengumpulan massa termasuk stadion perlu menyiapkan ERP untuk mengantisipasi keadaan darurat seperti kejadian huru hara, kerusuhan dan kepanikan dalam hal melakukan evakuasi agar tidak terjadi banyak korban. [rea/but]






