Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa adalah jimat Muslimat Nahdlatul Ulama. Dia digadang-gadang publik untuk bersanding dengan Prabowo Subianto dan Anies Rasyid Baswedan dalam pemilihan presiden mendatang.
“Khofifah adalah figur calon wakil presiden potensial yang menjadi king maker dari kemenangan Pemilihan Presiden 2024,” kata Moch. Eksan, dosen mata kuliah ahlussunah wal jamaah Universitas PGRI Argopuro, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (6/6/2023).
Khofifah adalah Ketua Umum Muslimat NU yang memimpin selama empat periode atau 23 tahun. Tak hanya secara organisasi, Eksan menyebut, pengalaman di parlemen, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Kementerian Sosial, dan pemerintah provinsi telah mematangkan Khofifah sebagai aktivis perempuan, politisi ulung, dan birokrat tangguh.
Catat perjalanan karirnya. Khofifah pernah menjadi anggota DPR RI dari PPP (1992-1999), Wakil Ketua DPR (1-28 Oktober 1999) dan anggota DPR dari PKB (2004-2009), Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (1999-2001), Menteri Sosial (2014-2018), dan Gubernur Jawa Timur (2019-2024).
“Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh memuji keberhasilannya memimpin Jawa Timur dan menurunkan angka kemiskinan. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyebut Khofifah punya kemampuan tehnokratis yang terbaik,” kata Eksan.
“Dengan demikian, tak berlebihan bila Khofifah disebut jimat Muslimat NU yang punya sumbangsih besar dalam membangun Islam, NU dan Keindonesiaan. Tiga tema besar tersebut satu tarikan nafas yang menjadi nafas peran, kiprah dan perjuangan Khofifah selama ini,” kata Eksan.
Dari aspek elektoral, Khofifah adalah garansi perolehan suara signifikan bagi semua kandidat presiden. Ia memperoleh 7,6 juta lebih (49,89 persen) dalam pemilihan gubernur Jatim 2008, 6,5 juta lebih (37,62 persen) pada 2013, dan 10,4 juta lebih (53,55 persen) pada 2018.
Penulis buku ‘Kerikil di Balik Sepatu Anies’ ini menilai pasangan AK (Anies Baswedan-Khofifah) akan seperti AK-47, sebuah senjata yang paling banyak digunakan oleh tentara. “Kendati Khofifah di berbagai lembaga survei tak diunggulkan sebagai cawapres yang memiliki elektabilitas teratas, saya tetap menjagokannya. Apalagi berpasangan dengan Anies Baswedan,” kata Eksan.
Namun sejauh ini, Khofifah belum menunjukkan sinyal sama sekali akan bergandengan dengan Anies maupun kandidat lainnya. Ia enggan berkomentar setiap kali ditanya wartawan soal itu. [wir]






