Surabaya (beritajatim.com) – Departemen Politik FISIP Unair memberangkatkan sejumlah mahasiswa dan dosen untuk melakukan kolaborasi riset dengan Prince of Songkla University, Thailand pada pelaksanaan Pemilu di Thailand.
Mahasiswa yang berpartisipasi terdiri dari Marcella, Leony, Barieta, Catarina, Brilin, dan Bogy (mahasiswa S1 Ilmu Politik 2020) serta Jingga dan Abdulloh Salam (mahasiswa S1 Ilmu Politik 2021). Sementara dosen yang mendampingi adalah Kalimah Wasis Lestari, S.IP., M.Sc. dan Hari Fitrianto, S.IP., M.IP.
Kegiatan yang dilangsungkan selama tujuh hari mulai 11 Mei 2023-17 Mei 2023 ini, dimaksudkan agar mahasiswa dapat mengamati, meneliti, dan mendiskusikan proses berlangsungnya pemilu di Thailand.
BACA JUGA:
Unair Terjunkan 10 Tim Periksa Paus Terdampar di Mulyorejo Surabaya
Dengan menggunakan sistem mix member yaitu first past the post (FPTP) dan sistem party list, pemilu di Thailand menjadi panggung kontestasi yang kuat antar kandidat dan partai untuk meraih suara rakyat.
Kalimah Wasis Lestari menyebutkan, serangkaian kegiatan yang dilakukan cukup panjang mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Ia menceritakan pengalaman menarik yang dialami oleh dirinya dan mahasiswa saat melakukan pengamatan kampanye di Pattani yang dibantu oleh Prince of Songkla University.
“Mahasiswa dibagi ke dalam dua kelompok dan ada satu kelompok yang ikut pawai kampanye bawa alat peraga dan juga wawancara kandidat saat pemilu,” ujarnya, Sabtu (20/5/2023).
Kata dia, wawancara yang dilakukan oleh mahasiswa dan para dosen berfokus pada beragam isu. Mahasiswa mengulik informasi dari para kandidat sesuai dengan concern mahasiswa, ada yang tentang perempuan dan pemilu, ada tentang isu populism, muslim dan pemilu, ada juga tentang militer.
BACA JUGA:
Profesor Belanda Takjub dengan Gedung Fakultas Kedokteran Unair yang Berusia 100 Tahun
“Sementara dosen memiliki fokus terkait comparative politics dari sistem pemilu dan penyelenggaraan pemilu,” sebutnya.
Saat hari pelaksanaan pemilu, Kalimah bersama dengan para mahasiswa yang berpartisipasi menyoroti terkait fasilitas, kondisi masyarakat, dan mekanisme pemilu di Thailand yang cukup berbeda dibandingkan pemilu di Indonesia.
“Salah satu temuan kita adalah tentang money politic yang masih marak terjadi. Namun, masih ada partai politik yang bersih dan tidak menggunakan praktik money politic, yaitu Move Forward Party yang saat ini memenangkan kursi mayoritas,” ujarnya.
“Pada hari H pemungutan suara kami menyaksikan secara langsung proses pemungutan hingga penghitungan suara. Kita juga ke tempat pengumpulan hasil suara di level provinsi, ada banyak sekali militer bersenjata yang berjaga,” imbuh Kalimah.
BACA JUGA:
Gelar Bukber Lintas Angkatan FH Unair, Ini Harapan Masfuk
Ia pun berharap kerja sama antara Departemen Politik FISIP Unair dengan Prince of Songkla University dapat terus terjalin. Hal ini juga diharapkan dapat semakin mendukung prestasi akademik Indonesia di kancah internasional.
Nantinya, riset kolaborasi ini akan berlanjut untuk meneliti pelaksanaan pemilu di Indonesia tahun 2024. “Mahasiswa Ilmu Politik dapat terlibat dalam kegiatan internasional agar wawasannya lebih luas dan jaringannya lebih banyak,” tutupnya.
Sementara Marcella, salah satu mahasiswa Ilmu Politik yang turut berpartisipasi pada kegiatan tersebut mengaitkan temuan yang ia peroleh dengan pencapaian demokrasi di Thailand.
“Kalau boleh menyimpulkan dengan segala keterbatasan pengetahuan saya, Thailand saat ini adalah Indonesia saat orde baru. Dominasi satu kekuatan yang sudah sangat lama di Thailand juga menjadikan masyarakatnya sudah lelah dan menginginkan demokrasi yang nyata sehingga lagi-lagi pemilu di tahun 2023 ini sangat semarak dan penuh harapan,” ujarnya. [ipl/suf]






