Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Airlangga (Unair) Surabaya memberikan sejumlah ide dan gagasannya untuk memastikan tercapainya ambisi Indonesia Maju di tahun 2034 mendatang.
Gagasan ini dipaparkan langsung oleh Rektor Unair Prof Mohammad Nasih dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk ‘Gagasan Unair Menuju Indonesia Maju 2034’ yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa (14/5/2024).
Dalam kesempatan itu, Prof Nasih mengatakan bahwa untuk menjadi sebuah negara maju, Indonesia perlu fokus pada pendapatan per kapita, bukan hanya pada produk domestik bruto (PDB) secara keseluruhan saja.
“Pendapatan per kapita jauh lebih relevan untuk bisa menjadi acuan. Menjadikan Indonesia maju, berarti menjadikan Indonesia itu paling tidak PDB per kapitanya 13 ribu. Saat ini masih di angka 3 ribuan,” katanya.
Selain itu, penurunan angka kemiskinan juga menjadi prioritas utama. Untuk mencapai tujuan ini, pertumbuhan ekonomi harus mencapai 9 persen. Tentu hal ini menjadi tantangan yang membutuhkan strategi matang.
Selanjutnya terkait investasi. Menurut Prof Nasih, untuk mendongkrak investasi bukan menjadi pekerjaan yang mudah. Sehingga, kunci keberhasilan sejatinya terdapat pada SDM, yang harus dikembangkan secara lebih lanjut.
“Menurut saya agar PDB lebih tinggi, kemiskinan turun, jalan utamanya melalui pendidikan. Karena dengan pendidikan akan ada indikator yang bisa kita coba dorong, termasuk di dalamnya adalah produktivitas,” terangnya.
Pendidikan, baginya menjadi pondasi utama dalam mewujudkan Indonesia Maju 2034. Hanya saja, aspek quality dan relevansi di tingkat pendidikan menengah masih menjadi persoalan utama yang perlu diselesaikan.
“Kami menduga salah satu penyebab dari aspek kualitas ini adalah kualitas dari para pendidiknya. Sehingga, bagaimana meningkatkan kualitas dari pendidik, termasuk infrastruktur dari SMP dan SLTA. Artinya, program memuliakan guru sangat urgent,” papar dia.
Dari beragam persoalan itu, Prof Nasih menggarisbawahi bahwa akar dari segala persoalan tersebut terdapat pada investasi di bidang pendidikan tinggi. Dimana, saat ini investasi bidang pendidikan tinggi masih di angka Rp 9,4 juta per mahasiswa.
Tentu angka ini terpaut jauh dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia. “Kita mendorong semua bisa teratasi dengan baik. Paling tidak, tahun 2034 kita bisa Rp 34 juta per mahasiswa,” ungkapnya.
Sementara merespon gagasan Unair, Akademisi UMY sekaligus Bendahara Umum PP Muhammadiyah Prof Hilman Latief mengatakan bahwa di Indonesia, akses dan literasi terhadap digital masih cenderung terbatas.
“Akses dan literasi terhadap digital itu masih terbatas, dan Indonesia yang begitu besar, maka kemudian bagaimana sebetulnya digital equality itu bisa menjadi bagian dari visi pendidikan ke depan,” kata Prof Hilman.
Ia melihat, digital equality ini nampaknya juga selaras dengan regional and equality. Misalnya di berbagai wilayah di Indonesia yang memang desentralisasi gagasannya belum begitu tampak.
“Ini barangkali bisa menjadi bagian apa yang Pak Rektor (Prof Nasih) dorong dalam konteks penguatan lembaga pendidikan di tanah air,” sebutnya.
Sedangkan Rais Syuriah PBNU Prof Mohammad Nuh menerangkan bahwa penentu kejayaan Indonesia bukan terletak pada banyak orang, melainkan dari sebuah kelompok kecil. Dengan kata lain, creative minority.
Mantan Mendikbud RI itu juga menilai jika bangsa Indonesia cenderung mengajarkan apa yang dibutuhkan di masa sekarang. Sehingga, hal itu akan expired lantaran zaman terus berjalan dan berubah.
“Bagi para perancang pendidikan, yang penting adalah future thingking, berpikir ke depan. Bukan berpikir masa lalu saja. Kuncinya, dosen, guru harus jadi pembelajar sejati,” tandas Prof Nuh. [ipl/but]






