Surabaya (beritajatim.com) – Mundurnya Wakil Ketua Bidang Agama dan Adat DPW Partai NasDem Jatim, H Moh Abid Umar (Gus Abid) secara mendadak dinilai sebuah kerugian besar bagi partai besutan Surya Paloh tersebut.
Sebab Partai NasDem akan kehilangan jamaah yang ‘sami’na wa atho’na alias selalu patuh pada sang tokoh. Pasalnya, Gus Abid adalah keluarga Ponpes Ploso yang memiliki jaringan alumni serta jamaah yang luar biasa besar.
Peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC), Surokim Abdussalam mengatakan, partai politik memang harus bekerja keras untuk bisa menjaga soliditas dan loyalitas kader agar tidak keluar masuk menjelang 2024.
“Menjaga agar ritme kader turn out tidak tinggi dan menjaga kondusivitas partai politik itu tidak mudah. Hal itu dibuktikan di Jawa Timur, sudah ada beberapa kader potensial yang mundur di tahun politik ini. Dan, ini jelas sebuah kerugian besar bagi partai politik,” ujar Surokim ketika dikonfirmasi, Jumat (7/4/2023).
BACA JUGA:
Gus Koboi Ploso Tiba-tiba Mundur dari NasDem, Ada Apa?
Gus Abid adalah cucu Pengasuh Ponpes Al Falah, Ploso Kediri KH Zainuddin Djazuli, putra KH Umar Faruq dan keponakan KH Abdussalam Sohib (pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang).
Sementara dari garis ibu, ia berasal Banyuwangi. Ia adalah cucu KH Askandar. Ibu adalah saudara KH Noer Muhammad Iskandar SQ, Jakarta dan KH Anwar Iskandar Kediri (Wakil Rais Aam PBNU). Gus Abid saat ini menjabat Wasekjen PP GP Ansor. Gus Abid pernah menduduki jabatan Plt Ketua PW GP Ansor Jatim.
Surokim mengatakan, partai politik harus bisa menjaga agar kader potensial yang punya jaringan luas tidak keluar, diberi ruang untuk berkembang. Ini agar mereduksi potensi lost snowballing, yaitu diikuti pengikut dan jaringannya.
“Perlu penjagaan khusus karena terkait dengan jemaah ikutan yang biasanya sami’na wa ato’na. Dan, Gus Abid yang berasal dari Ponpes Al Falah Ploso, Kediri memiliki potensi itu,” tegasnya.
BACA JUGA:
Anies Baswedan ke Jatim, NasDem: Masyarakat Ingin Bertemu
Partai NasDem, lanjut Surokim, seharusnya bisa menjaga kader yang punya relasi kultural langsung dengan kiai dan pondok pesantren khos, yang sudah dikenal luas masyarakat dengan jumlah santri dan alumni yang besar seperti Ponpes Al Falah Ploso.
“Apalagi timing sekarang hal begitu bisa mematik sensitivitas opini publik. Makanya, partai harus hati-hati dan bisa menjaga agar kader potensial dengan modal elektoral yang kuat bisa dijaga agar tidak keluar partai dalam momen saat ini hingga menjelang pendaftaran,” tandasnya.
Terkait partai politik apa yang paling diuntungkan dengan mundurnya Gus Abid dari Partai NasDem, Surokim menyatakan, terkait limpahan suara tentu sulit diprediksi karena variabelnya yang cukup kompleks.
“Tapi jika melihat basis suara sebelum Pemilu 2019, daerah itu sebelum Partai NasDem masuk, partai apa yang menang, saya pikir partai tersebut yang punya peluang untuk merebut kembali suara yang hilang. Namun, akan sangat tergantung juga mau kemana Gus Abid dan keluarga ndalem akan berafiliasi. Itu juga menjadi pintu masuk untuk melihat limpahan suara dukungan,” pungkasnya. [tok/suf]






