Surabaya (beritajatim.com) – Peringatan Hari Bipolar Sedunia jatuh pada tanggal 30 Maret di setiap tahunnya. Adanya peringatan ini bertujuan untuk mengedukasi dunia tentang gangguan bipolar dan meningkatkan kesadaran terhadap penyakit tersebut.
Bipolar sendiri merupakan kondisi gangguan kesehatan mental yang umumnya menyebabkan perubahan mood atau suasana hati secara ekstrem. Penderitanya bisa dengan mudah berada dalam dua fase, yakni episode manik dengan emosi yang tinggi atau depresif dengan emosi terendah.
Ketika sedang berada pada episode manik, penderitanya bisa merasa lebih bersemangat, penuh energi, humoris, atau lebih ceria. Sebaliknya, ketika penderita berada pada mode depresi, segala semangat dan kesenangannya akan hilang, ia merasa putus asa, sedih, bahkan tidak berharga.
Kedua episode ini jika terus berubah tentu akan mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan, mulai dari aktivitas sehari – hari, perilaku, lingkungan sosial, kemampuan berpikir jernih, atau sesederhana mengganggu pola tidur dan pola makan seseorang.
Untuk menambah wawasan, berikut ini adalah sejarah lahirnya Hari Bipolar Sedunia.
BACA JUGA: 26 Maret Jadi Hari Epilepsi Sedunia, Begini Sejarah Panjangnya
Sejarah Hari Bipolar Sedunia
Awal mula lahirnya Hari Bipolar Sedunia merupakan inisiatif dari International Society for Bipolar Disorders (ISBD) yang bekerjasama dengan International Bipolar Foundation (IBPF) dan Asian Network of Bipolar Disorders (ANBD).
Sebelum ditemukan istilah ‘bipolar’, penyakit ini dikenal dengan gangguan mental yang ditemukan dalam literature medis dari dokter Hippocrates atau disebut sebagai “Bapak Kedokteran”. Ia mendokumentasi temuannnya itu pada dua suasana hati yang berlawan dan kini disebut sebagai depresi serta mania.
Sementara itu, ahli saraf Prancis, Jules Baillarger menyebut penyakit ini dengan istilah ‘folie bentuk ganda,’ yang berarti kegilaan bentuk ganda. Sedangkan psikiater Prancis Jean-Pierre Falret menyebutnya ‘folie circulaire,’ yang berarti kegilaan melingkar.
Di abad ke-19, barulah hadir pemahaman konseptual modern mengenai gangguan bipolar, dan deskripsi independennya ditampilkan pada Académie de Médecine di Paris pada tahun 1854 oleh Baillarger dan Falret.
Barulah 145 tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1999 Yayasan Bipolar Internasional atau International Bipolar Foundation (IBF) didirikan, yakni untuk meneliti gangguan bipolar dan membantu siapa saja penderitanya.
BACA JUGA: 17 Maret Hari Tidur Sedunia, Simak Sejarah dan Cara Merayakannya
Pada akhirnya tanggal 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Bipolar Sedunia, tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan hari kelahiran pelukis Belanda, Vincent van Gogh.
Ia merupakan salah satu seniman paling berpengaruh dalam sejarah seni Barat dan ternyata juga didiagnosis memiliki gangguan bipolar. Ia menjadi inspirasi karena kreativitas dan semangatnya yang tak pudar meski mengidap gangguan mental.
Maka dari itu, hadirnya hari istimewa ini bisa menjadi ajang serta wadah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia mengenai bipolar, hal ini sejalan dengan visi dari Hari Bipolar Sedunia yang ingin mengedukasi serta menghilangkan stigma buruk yang melekat di sosial. (mnd/nap)






