Jember (beritajatim.com) – Petani di Indonesia terlalu percaya diri dengan kemampuan mereka. Mereka sulit menerima teknologi yang sebenarnya bertujuan memperbaiki dunia pertanian.
Kritik ini dikemukakan Kepala Staf Kepresidenan RI Moeldoko, dalam acara kuliah umum mengenai ketahanan pangan dan ketahanan energi di auditorium Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (24/3/2023).
“Bagi para petani, persoalan pertanian adalah tanah, kapital, teknologi. Petani kita itu confidence-nya luar biasa. Apalagi yang datang (memberi pengetahuan adalah) mahasiswa: ‘emang lo siapa? Gue sudah bertani puluhan tahun. Tiga puluh lima tahun bertani’,” kata Moeldoko.
“Petani tidak mudah menerima teknologi. Bagi petani, seeing is believing. Mana yang dia lihat berhasil, itu yang dia percaya. Tidak mudah meyakinkan petani kita walau ilmu kita segudang,” kata Moeldoko.
Baca Juga:
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/31-persen-warga-unej-bingung-saat-alami-kekerasan-seksual/
Petani tidak akan serta-merta mengadopsi penemuan di dunia pertanian. Moeldoko mencontohkan padi varietas M70D yang butuh waktu enam tahun agar bisa diterima petani. “Panjang perjuangannya untuk meyakinkan para petani. Seeing is believing adalah rumus bagi petan kita. Jadi kita datang ke sana harus buat demplot dulu. Tiga bulan demplot kita tunggu, dan baru petani diundang untuk melihat hasilnya,” katanya.
“Itu pun harus berdiskusi dulu. Itulah kondisi petani kita. Kita perlu bersabar dan konsisten. Terus-menerus, jangan menyerah,” kata Moeldoko. [wir/ted]






