Surabaya (beritajatim.com) – PPNI Surabaya mengerahkan 1.500 perawat untuk penanganan indikasi gejala balita stunting di Surabaya. Dari 4 kecamatan, setidaknya ada 200 balita yang diperiksa.
Ketua DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Surabaya, Nuh Huda mengatakan kegiatan untuk mengatasi stunting hingga ke akar zero stunting di Surabaya. Ribuan perawat ini fokus memprioritaskan upaya penanganan dan pencegahan indikasi gejala balita stunting.
Selain balita, kegiatan ini juga menyasar remaja putri. Yakni, dengan memberikan tambah darah (TTD). Setelah itu, untuk calon pengantin (catin) dan ibu hamil juga mendapatkan micronutrients (zat gizi mikro).
[berita-terkait number=”5″ tag=”stunting”]
“Para perawat juga menggencarkan konsumsi protein pada ibu hamil dan anak-anak balita, seperti mengonsumsi telur, ikan maupun daging,” ujar Nuh, Kamis (23/3/2023).
Sementaraitu, Andini Prasita, orang tua balita mengaku senang karena pemeriksaan dilakukan dengan jemput bola. Sebab, selain lebih dekat dengan tempat tinggal, mereka juga tidak perlu antre memeriksakan di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Anak saya kan periksa untuk penimbangan, segala macam, lebih mudah. Tadi anak saya diperiksa berat badan, tinggi badan, dan pendataan untuk anak-anak. Termasuk diberi makanan seimbang dan informasi seputar masalah gejala stunting pada anak balita,” ungkapnya.
Adapun 4 kecamatan sasaran kegiatan tersebut yakni Kecamatan Bulak, Kenjeran, Tambaksari dan Mulyorejo. Sementara itu, diketahui tiga tahun terakhir prevalensi stunting di Surabaya terus mengalami penurunan.
Dinas Kesehatan Kota Surabaya mencatat, tahun 2020 ada 12.788 kasus stunting, dan turun menjadi 6.722 pada tahun 2021. Kemudian, hingga akhir Desember 2022 kembali turun menjadi 923 kasus. Dan, pada Februari 2023, jumlah kasus stunting di Surabaya turun menjadi 872 kasus. [ipl/kun]






