Malang (beritajatim.com) – Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI) terus berupaya dalam peningkatan kemampuan digital calon karyawan saat terjun di dunia kerja. Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemnaker RI, Prof Drs Anwar Sanusi MPA, Ph.D pada agenda Ministrial Lecture di Universitas Brawijaya, Selasa (14/3/2023).
Prof Anwar Sanusi membeberkan dari data IMD World Digital Competitiveness Ranking 2022, Indonesia saat ini di peringkat 51 dari total 63 negara. Indonesia pun masih lemah dalam pilar knowledge yang berada pada posisi 60 dan sub pilar training dan education di peringkat 62.
“Secara global, peringkat Indonesia untuk daya saing digital masih rendah. Bahkan dari survei East Ventures 2022 sebanyak 52,1% perusahaan di Indonesia kesulitan untuk mencari karyawan berkemampuan digital. Sebaliknya hanya 7% saja perusahaan yang mudah ketika mencari karyawan punya bekal digital,” kata Prof Anwar Sanusi.
BACA JUGA:
Kurangi Angka Pengangguran, Kementerian Ketenagakerjaan Gandeng UINSA
Dari survei itu, sambung Anwar Sanusi, 56,3% calon pekerja cuma menguasai teoritisnya saja bukan pada taraf aplikatif. Bahkan 32,4% perusahaan memandang calon karyawan tidak memiliki kemampuan digital yang memadai sesuai dengan keinginan dari perusahaan.
Dari data di lapangan tersebut, Kemnaker saat ini sudah mengeluarkan tiga kebijakan ketenagakerjaan, yaitu adaptif, resilien dan inklusif. Kemudian ada lima hal yang dilakukan Kemnaker, yaitu reformasi dan pendidikan pelatihan vokasi, optimalisasi sistem informasi dan layanan pasar kerja, perluasan kesempatan kerja, jaminan sosial dan perlindungan tenaga kerja yang adaptif serta hubungan industrial yang harmonis.
“Tidak hanya itu, Kemnaker juga sudah melakukan 9 lompatan terkait ketenagakerjaan. Meliputi transformasi, link and match Ketenagakerjaan, balai latihan kerja, pengembangan talenta muda, transformasi program perluasan kesempatan kerja,” ujar pria yang memperoleh gelar Profesor di UB Malang tersebut.
BACA JUGA:
TKI Asal Sampang Wajib Belajar Bahasa Asing Sebelum Kerja
Selain itu, visi baru hubungan industrial, ada pula perluasan pasar kerja luar negeri, pengembangan ekosistem digital ketenagakerjaan, reformasi pengawasan ketenagakerjaan, dan reformasi birokrasi.
“Kemnaker juga telah menyiapkan ekosistem digital ketenagakerjaan yaitu SIAP kerja (Sistem Informasi dan Aplikasi Pelayanan Ketenagakerjaan) dan Satu Data Ketenagakerjaan (SDK). Ada beberapa aspek digital juga yang lain seperti Skill Hub yang dipakai untuk marketplace peningkatan keahlian melalui pelatihan,” sambungnya.
Kemudian terkait informasi pasar kerja bisa melalui Bizhub dan Karirhub untuk program perluasan kesempatan kerja. Dan ada pula Sertihub yang dipakai untuk marketplace sertifikasi profesi.
BACA JUGA:
Pemkab Sidoarjo Berharap dengan Banyaknya Pelatihan Bisa Mengikis Jumlah Pengangguran
Menariknya saat ini, Kemnaker juga menyiapkan program talenta muda bagi anak muda di Indonesia. Melalui empat program, yakni Talent Scouting, Talent Fest, Talent Corner dan Talent Class.
Anwar Sanusi berharap agar tenaga kerja muda tidak takut berhadapan dengan digitalisasi. Hal itu, menurutnya sebagai kebutuhan di pasar kerja di era digital yang lebih butuh pada soft skill. Dia berharap agar anak muda aktif berpartisipasi dalam jejaring atau komunitas keterampilan kontemporer.
“Jangan pernah sekalipun berhenti belajar dan jangan mudah menyerah pada persaingan di dunia kerja. Bangun komunikasi dan profesionalisme di tempat kerja dengan berbagai generasi. Teruslah membangun branding keterampilan diri,” tutupnya dalam penyampaian. [dan/suf]






