Surabaya (beritajatim.com) – Blitar merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang memiliki keragaman budaya dan nilai-nilai sejarah yang tinggi. Blitar dikenal sebagai Kota Proklamator, ini lantaran Sang Proklamator sekaligus Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno disemayamkan di kota ini.
Selain itu, Blitar juga memiliki julukan unik lainnya, seperti Kota Patria, Kota Lahar, Kota Peta dan Kota Koi. Dilansir dari blitarkota.go.id, Kota Blitar menjadi wilayah terkecil kedua di Provinsi Jawa Timur setelah Kota Mojokerto, yakni dengan luas wilayah kurang lebih 32,58 km2.
Secara legal – formal, kota ini didirikan pada 1 April 1906. Meski begitu, tak banyak masyarakat yang mengetahui bagaimana sejarah Kota Blitar ini dibentuk. Nah berikut ini adalah sejarah dari Kota Blitar yang dikutip dari blitarkota.go.id.
[berita-terkait number=”2″ tag=”blitar”]
Sejarah Berdirinya Blitar
Blitar jatuh ke tangan Belanda pada sekitar tahun 1723, yakni ketika berada di bawah kepemimpinan Djoko Kandung atau Adipati Ariyo Blitar III, Kerajaan Kartasura Hadiningrat pimpinan Raja Amangkurat.
Hal ini didasari oleh rasa terimakasih Raja Amangkurat kepada Belanda karena dianggap telah membantu dalam perang saudara, termasuk perang dengan Ariyo Blitar III yang berupaya merebut kekuasaannya. Eksistensi Kadipaten Blitar sebagai daerah pradikan pun berakhir dengan perpindahan kekuasaan ini.
Masa penjajahan Belanda di Blitar berlangsung dengan sangat menyedihkan, banyak korban yang berjatuhan, serta harta yang direnggut paksa. Tidak tahan lagi, rakyat Blitar akhirnya bersatu untuk membentuk perlawanan kepada Belanda.
Pemerintahan Belanda pun tak tinggal diam, mereka mengeluarkan sebuah Stattsblad van Nederlandche Indie Tahun 1906 Nomor 150 tanggal 1 April 1906, yang berisi penetapan pembentukan Gemeente Blitar. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk meredam perlawanan rakyat Blitar, yang akhirnya dimanfaatkan sebagai momen pengukuhan hari lahirnya Kota Blitar.
Di tahun yang sama, kota – kota lain di Indonesia juga didirikan, antara lain ada Kota Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Cheribon, Magelang Semarang, Madiun, Malang, Surabaya, dan Pasuruan.
[berita-terkait number=”2″ tag=”blitar”]
Namun, di tahun 1942 Jepang berhasil menduduki Kota Blitar, istilah Gementee Blitar berubah menjadi “Blitar Shi” dan diperkuat dengan hukum bernama Osamu Seerai. Jepang menggunakan isu sebagai saudara tua bangsa Indonesia sebagai modus penjajahan.
Kota Blitar kembali bergejolak, dibuktikan dengan pemberontakan PETA Blitar yang dipimpin oleh Soedancho Suprijadi. Terjadi pada 14 Februari 1945, pemberontakan ini menjadi perlawanan yang paling besar kepada Jepang.
Di luar itu, untuk pertama kalinya Sang Saka Merah Putih dikibarkan oleh Partohardjono, anggota pasukan Suprijadi. Bendera tersebut dikibarkan di tiang bendera yang berada di seberang asrama PETA, dan kini berada dalam kompleks TMP Raden Wijaya yang juga dikenal sebagai Monumen Potlot.
Tak lama setelah pemberontakan PETA Blitar, Soekarno – Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Disambut dengan suka cita oleh rakyat Blitar, mereka mengikrarkan diri berada di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
[berita-terkait number=”2″ tag=”blitar”]
Nah, sebagai bukti keabsahan keberadaan Kota Blitar dalam Republik Indonesia, Pemerintah mengeluarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1945 tentang perubahan nama “Blitar Shi” menjadi “Kota Blitar”.
Dari sejarah ini, jelas terlihat bahwa kemerdekaan Indonesia tak lepas dari perjuangan Blitar dan rakyat – rakyatnya. Inilah mengapa Blitar memiliki nilai sekaligus tempat – tempat bersejarah di setiap sudut kota. (mnd/ian)






