Gresik (beritajatim.com) – Perumda Giri Tirta Gresik siap suplai kebutuhan air ke PT Freeport Indonesia (PTFI). Air dengan kapasitas 150 liter per detik (lpd) akan disalurkan ke perusahaan smelter single line terbesar di dunia itu dari total kebutuhannya sebesar 600 lpd.
Digandengnya perusahaan BUMD tersebut menjadi angin segar. Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, keberadaan smelter PTFI ini perlu sinergitas lintas sektor.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani (Gus Yani) berharap BUMD milik Pemkab maupun para pengusaha daerah bisa menjadi lokomotif dalam pembangunan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
“Kami sudah menyiapkan sumber air dari dua sistem penyedia air minum (SPAM). Yakni Bendung Gerak Sembayat dan Umbulan. Ini sudah berprogres di KEK. Khususnya PTFI,” tuturnya, Jumat (24/2/2023).
BACA JUGA: Ini Cara Dewan Tingkatan PAD Gresik Melalui Raperda PDRD
Mantan Ketua DPRD Gresik itu menambahkan, terkait dengan ini kedepan Perumda Giri Tirta bakal menyuplai 200 lpd ke KEK. Dengan rincian 50 lpd untuk kawasan JIIPE dan 150 lpd untuk smelter.
“Mudah-mudahan lima tahun lagi bisa menyumbang PAD puluhan miliar. Ini merupakan implementasi dari arahan presiden dimana ada multiplayer effect untuk KEK,” imbuhnya.
Sementara itu, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan, pihaknya selalu menyampaikan bahwa tidak ada satu perusahaan yang berhasil di tengah masyarakat yang gagal. Untuk itu, antara perusahaan dan masyarakat harus tumbuh bersama.
“Kami mengajak Perumda Giri Tirta Gresik untuk menjadi bagian dalam operasional smelter 2024,” katanya.
BACA JUGA: Kantor MUI Gresik Kini Tak Nebeng Lagi
Tony menjelaskan, untuk kebutuhan saat operasional Mei 2024 nanti, 450 lpd akan disuplai dari proses desalinasi air laut dan 150 lpd dari Perumda Giri Tirta. Sehingga, totalnya adalah 600 lpd untuk operasional smelter.
“Kami sudah melihat, sudah evaluasi kenapa kami mau MoU dengan BUMD karena ada kepercayaan untuk operasional proyek pembangunan PTFI,” ungkapnya.
Sementara itu, Dirut Perumda Giri Tirta Kurnia Suryandi menyatakan, untuk menyuplai air ke smelter itu dibutuhkan investasi sebesar Rp200-250 miliar.
“Investasi itu kami juga menggandeng investor untuk pembangunan pipa sepanjang 17 kilometer. Untuk kawasan di JIIPE akan dibangun pipa sepanjang 2,7 kilometer,” pungkasnya. [dny/beq]






