Ponorogo (beritajatim.com) – Kecamatan Pudak di Kabupaten Ponorogo, kini hanya memiliki 1 kasus wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Padahal di awal gelombang pertama PMK melanda Ponorogo, sempat tercatat puluhan ribu kasus terjadi di Pudak.
“Untuk sementara hingga saat ini, kasus PMK di Kecamatan Pudak hanya ada 1 sapi yang terjangkit,” kata Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Kabupaten Ponorogo, Masun, Rabu (01/02/2023).
Rendahnya kasus PMK di Pudak itu karena mayoritas sapi di kecamatan paling timur Ponorogo tersebut sudah menjalani vaksinasi. Tingginya capaian vaksinasi disana, juga dipengaruhi oleh banyaknya sapi yang terjangkit PMK pada gelombang pertama lalu.
Saat itu, bisa dibilang perekonomian di sana lumpuh. Sebab, mayoritas warganya bergelut dengan ternak sapi perah. Sehingga di Pudak sudah terkena sebagai penghasil susu terbesar di Ponorogo.
“Karena dulu kasusnya yang mencapai puluhan ribu, sehingga sudah banyak sapi disana yang sudah divaksin. Tidak heran jika kasus PM gelombang kedua disana jumlahnya sedikit bahkan hingga saat ini masih 1 kasus,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”Ponorogo”]
Kasus PMK yang ada di Kecamatan Pudak saat ini, kata Masun merupakan kiriman sapi dari luar daerah Kabupaten Ponorogo. Hal itu sesuai dengan penuturan peternak yang sapinya terjangkit PMK. Jadi bukan sapi yang sudah lama dirawat disitu.
“Kasus satu-satunya di Pudak itu, diakui sendiri peternaknya bahwa merupakan sapu yang didatangkan dari Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Masun berpesan kepada masyarakat yang memiliki ternak sapi, untuk tidak ragu melakukan vaksinasi PMK. Sebab, vaksinasi PMK ini juga bersifat gratis. Terbukti efektif dalam menekan angka persebaran PMK.
“Dengan adanya PMK gelombang kedua ini, kita gencarkan vaksinasi terhadap ternak-ternak warga,” pungkasnya. [end/beq]






