Jombang (beritajatim.com) – Seorang pria di Jombang mengubah sayur gambas atau loofa/lufa menjadi benda yang bernilai tinggi. Sayur jenis labu-labuan tersebut digunakan untuk spond mandi. Tentu saja, bahan tersebut lebih ramah lingkungan dibanding menggunakan spons mandi berbahan plastik. Hasil dari bisnis ramah lingkungan itu pun menghasilkan cuan hingga jutaan rupiah.
Hari mulai beranjak siang ketika Lutful Hakim (43) sibuk melakukan aktifitas di rumahnya Perumahan Denanyar Indah Kecamatan/Kabupaten Jombang, Selasa (13/12/2022). Dia berjongkok. Tangan kanannya memegang sebatang kayu yang panjangnya satu meter. Sedangkan di depannya ada beberapa sayur gambar berukuran besar.
Lutful kemudian menghantamkan kayu yang dipegang itu ke arah gambas jenis taiwan itu berkali-kali. Kulit sayur itu terkelupas. Gambas hanya menyisakan serat berwarna kehijauan. Beberapa loofa yang didepannya pun tandas dalam sekajab. Loofa yang menyisakan serat itu kemudian direndam dalam ember dan ditutup menggunakan karung.
Suami dari Siti Jamaliah ini kemudian bergeser mendekati drum plastik yang tak jauh dari tempat duduknya. Tutup drum dibuka. Dari situ nampak loofa yang sudah hilang kulitnya. Warnanya kuning keemasan. Dia mememaras satu persatu sayur tersebut. Ketika airnya sudah susut, loofa dipindah ke atas nampan. Lalu dijemur di atas genting.
[berita-terkait number=”3″ tag=”bisnis”]
“Prosesnya memakan waktu sekitar delapan hari. Dari sayur yang masih hijau kemudian dikupas dengan cara dikepruk. Lalu direndam selama tiga hari dalam ember. Setelah itu dipindah ke dalam drum. Tujuannya, agar getas dan dagingnya hilang. Ketika menyisakan serat, loofa kemudian kita jemur hingga kering. Baru dikemas untuk dikirim kepada pemesan,” ujar Lutful sembari menunjukkan spond mandi berbahan gambas yang siap kirim.
Bapak tiga anak ini menjelaskan, dirinya sudah satu tahun menjalani bisnis tersebut. Yakni, mengubah satu jenis labu-labuan tersebut menjadi spons mandi organik atau alami. Usaha itu berawal keprihatinannya atas banyaknya sampah tak terurai yang dihasilkan dari kamar mandi. Banyak orang lebih senang menggunakan spons mandi berbahan plastik.
Sudah begitu, trend gaya hidup manusia juga bergerak ke arah alami. Yaitu memanfaatkan bahan-bahan dari alam. Lutful kemudian memiliki ide untuk membuat spons mandi yang terbuat dari gambas itu. “Tapi ini jenis gambas taiwan. Ukurannya lebih besar dibanding gambas biasa. Kalau di Jawa Barat namanya oyong atau labu-labuan. Selain untuk sayur, juga bisa sebagai spons mandi serta alat pencuci piring dan peralatan dapur lainnya ,” ujar Lutful.

Setahun menjalani usaha tersebut, bisnis Lutful semakin berkembang. Bukan hanya di Jombang, permintaan juga datang dari luar kota, bahkan dari luar pulau. Mulai dari Sidoarjo, Surabaya, Kediri, Magelang hingga Jakarta. Sedangkan luar pulau sampai Kalimantan hingga Bali.
Dalam satu bulan, usaha yang diberima nama ‘Omah Loofa’ ini mampu menghabiskan sekitar 7 hingga 8 ribu pcs atau biji. Harga yang dipatok antara Rp 8 hingga Rp 12 ribu, tergantung kualitas atau besar dan kecilnya. “Omzetnya rata-rata Rp 12 sampai 15 juta dalam satu bulan. Baik penjualan secara langsung maupun melalui market place atau online,” ujar pria kelahiran Nganjuk ini.
Menurut Lutful, selain ramah lingkungan, spons gambas tersebut juga lebih cepat untuk membersihkan daki di tubuh. Juga lebih cepat mengangkat sel kulit mati. Sedangkan kegunaan lainnya, bisa untuk perangkat mencuci piring dan peralatan dapur lainnya. “Piring tidak berbau amis ketika dicuci menggunakan spons gambas,” tambahnya.

Bagaimana untuk mendapatkan bahan baku? Lutful menjelaskan, awalnya dia mendapatkan dari pasar tradisional. Namun seiring dengan tingginya permintaan, stok di pasar tak bisa mencukupi. Lutful kemudian membangun kemitraan dengan petani yang ada di Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuk.
“Juga di Wonosalam Jombang. Kami manjalin kemitraan dengan petani. Saat ini sudah ada lahan empat hektar. Sehingga kita tidak lagi kebingungan masalah bahan baku. Mungkin kendalanya saat ini hanya soal cuaca. Karena musim hujan, pengeringan spons gambas membutuhkan waktu lebih lama,” pungkasnya. [suf/ted]






